Palembang,SuaraMetropolitan – Kondisi armada Feeder LRT Musi Emas yang ramai diberitakan belakangan ini mendapat perhatian serius dari pengamat sekaligus pakar transportasi, Prof. Dr. Ir. Erika Buchari, M.Sc.
Keluhan sopir terkait ban kendaraan yang banyak gundul serta ketersediaan suku cadang yang kosong dinilai menyiratkan dugaan kurang tertibnya operator dalam melakukan perawatan. Hal ini, menurutnya, dapat berdampak pada kualitas pelayanan dan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM).
“Masalah kecil dapat menjadi besar kalau terus dibiarkan. Balai LRT dan Pemerintah kota Palembang selaku pembeli layanan sistem BTS seharusnya mengevaluasi apa yang dikeluhkan sopir dan masyarakat,” tegas Prof. Erika kepada SuaraMetropolitan, Minggu (10/8/2025).
Baca juga: Dugaan Akal-Akalan Jadwal Gajian Terkuak, Karyawan Feeder: Kami Ini Bekerja, Bukan Relawan
Baca juga: Pekerja Transportasi Terintegrasi Feeder LRT di Palembang Berstatus Mitra, Bolehkah?
Ia menjelaskan, skema Buy The Service (BTS) pada Feeder LRT Musi Emas melibatkan tiga pihak. Pertama, operator, yakni PT Transportasi Global Mandiri (TGM) selaku pemilik kendaraan dan tenaga kerja. Kedua, Pemkot Palembang dan Balai LRT sebagai pembeli layanan. Ketiga, masyarakat sebagai pemilik sekaligus pengguna layanan.
“Karena menggunakan uang rakyat (APBD dan APBN) untuk membeli layanan, Pemkot Palembang dan Balai LRT wajib memastikan operator sudah menjalankan Standar Pelayanan Mutu dengan baik, termasuk aspek keselamatan dan kenyamanannya,” ujarnya.
Prof. Erika berharap Pemkot Palembang dan Balai LRT segera merespons dan mengevaluasi kondisi yang telah disuarakan para sopir tersebut.
“Perhatian terhadap masyarakat sebagai pemilik layanan ini penting agar kepercayaan publik terhadap transportasi massal berbasis jalan yang terintegrasi di Palembang tidak menurun,” Pungkasnya.






