OKI,SuaraMetropolitan – Lelang Lebak Lebung dan Sungai (L3S) tahun ini tetap menjadi andalan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Meski standar harga objek lelang diturunkan sekitar 10 persen dari tahun sebelumnya, pendapatan tahap pertama tetap menunjukkan hasil positif.
Pelaksanaan serentak di 15 kecamatan tersebut berhasil mencatat pemasukan Rp5,358 miliar dari 207 objek yang laku terjual.
Kepala Dinas Perikanan OKI, Ubaidillah, menjelaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga dilakukan atas masukan masyarakat pengemin yang terdampak penurunan produktivitas perairan akibat perubahan iklim.
“Kebijakan dari Bapak Bupati ini merupakan bentuk penyesuaian atas usulan para pengemin,” ujar Ubaidillah, Rabu (19/11/2025).
Baca juga: Menhub Ajak Masyarakat Manfaatkan Diskon Transportasi Nataru 2025-2026
“Standar harga diturunkan sekitar 10 persen, namun hasil yang diperoleh pada periode pertama ini tetap maksimal,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa L3S tidak hanya kegiatan ekonomi, tetapi juga menuntut komitmen pemegang hak untuk menjaga kawasan perairan tetap lestari. Termasuk mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan yang mengancam lingkungan perairan.
Objek L3S tahun ini tersebar di 11 kecamatan. Pampangan memiliki titik lelang terbanyak yaitu 62 objek, sedangkan Lempuing dan Pedamaran Timur masing-masing hanya satu objek.
Dari 329 objek yang dilelang, 207 berhasil terjual. Jejawi menjadi penyumbang pendapatan terbesar dengan Rp2,148 miliar. Disusul Pampangan Rp1,037 miliar, Lempuing Jaya Rp850,5 juta, dan Pedamaran Rp569,8 juta. Kecamatan lain seperti Kayuagung, Pangkalan Lampam, Tulung Selapan, dan Sungai Menang turut memberi kontribusi dalam jumlah lebih kecil. Objek yang belum terjual akan kembali dilelang pada tingkat kabupaten pada 3 Desember 2025.
Baca juga: Muara Enim Gaspol Turunkan Pengangguran Lewat Gebyar UMKM dan Job Fair 2025
capaian ini menunjukkan bahwa penyesuaian harga telah membuka peluang lebih luas bagi masyarakat dan tetap mengamankan kontribusi PAD.
Ubaidillah juga menegaskan bahwa tradisi L3S merupakan kearifan lokal yang menjaga keseimbangan antara kegiatan ekonomi dan keberlangsungan lingkungan.
“Tradisi ini menghidupi dua hal, ekosistem dan ekonomi,” tegasnya.
Ia berharap L3S terus dipertahankan sebagai contoh pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.
“Ini tradisi yang kita jaga bersama agar tetap produktif dan berkelanjutan,” tutupnya.






