Berita Daerah

Anggaran Fantastis Hasil Dipertanyakan, Irigasi di Pagar Alam Rp800 Miliar Diduga Bermasalah

×

Anggaran Fantastis Hasil Dipertanyakan, Irigasi di Pagar Alam Rp800 Miliar Diduga Bermasalah

Sebarkan artikel ini
Bangunan Irigasi di Pagar Alam, diduga bermasalah.

Palembang,SuaraMetropolitan Proyek Peningkatan dan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Utama Daerah Irigasi (DI) Lematang di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, dengan nilai anggaran sekitar Rp800 miliar, disorot Komunitas Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (K-MAKI) Sumatera Selatan. Proyek tersebut dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII (BBWSS VIII), Kementerian PUPR RI, dan dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero) bersama PT Bumi Karsa (Persero).

Deputi K-MAKI Sumatera Selatan, Ir. Feri Kurniawan, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan dan investigasi pihaknya di lapangan, proyek irigasi Lematang diduga menyimpan berbagai persoalan teknis. Ia menilai banyak bangunan irigasi yang tidak sesuai spesifikasi teknis (bestek), serta sistem irigasi yang diperkirakan tidak mampu mengalirkan debit air secara optimal.

“Proyek irigasi yang berskala nasional ini justru dibangun seperti irigasi persawahan biasa dengan luasan di bawah 100 hektare. Padahal rencana awalnya mendukung perluasan lahan sawah hingga 3.000 hektare, namun sampai sekarang rencana itu juga tidak jelas,” ujar Feri, kepada SuaraMetropolitan Senin (29/12/2025).

Ia menilai jaringan irigasi Lematang tidak dilengkapi bendungan utama sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut, menurutnya, akan menyulitkan distribusi air ke seluruh jaringan irigasi. Selain itu, pembangunan saluran irigasi di wilayah Tapus, Plang Kenidai, Selebang, Jokoh, Salipaya, serta bangunan irigasi di Kelurahan Jokoh, Kecamatan Dempo Tengah, dinilainya tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang hampir mencapai Rp1 triliun.

Baca juga: Santunan Rp71 Miliar Digelontorkan Jasa Raharja Sumsel, Fatality Kecelakaan Turun di 2025

“Jalur utama irigasi dibuat seperti saluran drainase. Bangunan utama yang seharusnya berupa bendungan ternyata hanya pintu air biasa, dan saluran pembagi di banyak titik sudah rusak,” katanya.

Feri juga menyoroti kondisi bangunan utama yang dinilainya dibangun asal jadi. Secara fisik, bangunan tersebut hampir sama dengan irigasi persawahan biasa dan hanya dilengkapi pintu air pemisah dengan aliran Sungai Lematang.

“Tidak hanya banyak yang rusak, ada bangunan yang tertimbun tanah dan terkikis air. Sebagian besar saluran irigasi juga diduga dibangun tidak sesuai bestek. Dari total nilai proyek sekitar Rp800 miliar, saya memperkirakan realisasi fisik yang benar-benar sesuai paling besar hanya sekitar Rp300 miliar,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, bangunan saluran irigasi mulai dari Dusun Semidang Alas, Selebang, Jokoh hingga Plang Kenidai memiliki ukuran hampir sama dengan saluran drainase. Menurutnya, hanya di sekitar bangunan utama sepanjang kurang lebih 4 kilometer yang dibangun sesuai standar saluran irigasi.

Baca juga: UMK Muba 2026 Naik Jadi Rp4,03 Juta, Berlaku Mulai Januari

“Kalau melihat kondisi di lapangan, anggaran proyek irigasi Lematang ini sangat besar dan terbagi dalam beberapa paket, dengan total lebih dari Rp800 miliar, belum termasuk pembebasan lahan,” ujarnya.

Feri memaparkan, berdasarkan data yang dihimpun K-MAKI, nilai pagu atau Harga Perkiraan Sendiri (HPS) untuk Paket I mencapai Rp358.815.000.000, sementara Paket II sebesar Rp241.285.000.000. Dengan demikian, total nilai pagu kedua paket tersebut mencapai sekitar Rp600 miliar.

Selain itu, ia menyebutkan pembangunan jaringan irigasi DI Lematang sejak 2015 hingga 2018 telah menghabiskan anggaran sekitar Rp203.497.353.000 untuk pembangunan jaringan primer dan sekunder.

Terkait kualitas konstruksi, Feri mengungkapkan adanya dugaan ketidaksesuaian material dan pekerjaan. Ia mencontohkan, ketebalan dinding yang seharusnya 10 sentimeter, namun di lapangan hanya sekitar 7 hingga 8 sentimeter. Selain itu, besi rangka dinding yang seharusnya berukuran 10 digunakan ukuran 8, serta panjang jaringan irigasi yang direncanakan 34 kilometer diduga tidak sepenuhnya terpenuhi.

Baca juga: Wali Kota Pagar Alam Tinjau Posko Pengamanan Nataru di Titik Strategis

“Belum lagi banyak saluran yang rusak, tertimbun tanah, ditumbuhi rumput, dan di sepanjang jalur utama sudah banyak terjadi longsor,” jelasnya.

Feri menilai, jika melihat kondisi jalur pembagi dan bangunan utama, anggaran yang terserap paling besar sekitar Rp250 miliar. Namun demikian, bangunan utama yang dihasilkan tidak memiliki bendungan dan kondisinya hampir sama dengan irigasi persawahan dengan luasan sekitar 100 hektare.

“Dengan anggaran sebesar itu, hasil pembangunan proyek irigasi Lematang ini patut dipertanyakan,” pungkas Feri.

Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait persoalan pengerjaan proyek tersebut, Humas BBWSS VIII, Ida Novianti, menyampaikan bahwa pihaknya belum dapat memberikan keterangan.

“Maaf Pak, terkait masalah pengerjaan saya belum bisa memberikan pernyataan. Nanti akan saya sampaikan terlebih dahulu kepada konsultan dan pelaksana kami di lapangan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

error: Maaf ya, kalau beritanya bagus di share saja.