Palembang,SuaraMetropolitan – Kinerja perekonomian Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan capaian positif sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan ekonomi Sumsel tercatat berada di atas rata-rata nasional, sementara laju inflasi tetap terkendali berkat sinergi lintas sektor.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Edward Chandra, mengungkapkan bahwa pada triwulan III tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Sumsel mencapai 5,10 persen. Angka tersebut dinilai lebih baik dibandingkan capaian nasional.
“Dari sisi perkembangan ekonomi, Sumatera Selatan tumbuh cukup baik. Pada triwulan III 2025 pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,10 persen dan berada di atas angka nasional. Inflasi juga dapat dijaga di kisaran 2,1 persen,” ujar Edward, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, pengendalian inflasi dan penguatan pertumbuhan ekonomi tidak terlepas dari peran aktif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Sejumlah rekomendasi yang disampaikan TPID menjadi pedoman pemerintah daerah dalam menyusun dan menjalankan berbagai program pembangunan.
“Rekomendasi dari TPID menjadi rujukan pemerintah daerah dalam menggerakkan program-program, menyesuaikan visi dan misi Gubernur, serta bersinergi dengan program Bapak Presiden Republik Indonesia,” jelasnya.
Baca juga: Cik Ujang Dorong LP Ma’arif NU Sumsel Perkuat Kualitas Pendidikan dan SDM Daerah
Edward menambahkan, sektor pertanian masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di Sumsel. Penguatan sektor ini terus didorong melalui hilirisasi serta pengembangan komoditas unggulan daerah seperti kopi dan kelapa.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menegaskan komitmen Bank Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menjaga stabilitas inflasi.
“Kami dari Bank Indonesia fokus mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga inflasi daerah. Selama tahun 2025, Alhamdulillah inflasi di Sumatera Selatan tetap terjaga,” kata Bambang.
Terkait kondisi kemiskinan, Bambang menyebutkan bahwa meskipun menunjukkan tren perbaikan, angka kemiskinan di Sumsel masih berada di atas rata-rata nasional.
“Kalau bicara kemiskinan memang membaik, tetapi masih sekitar 10,15 persen dan berada di atas angka nasional 9,05 persen. Arahan Pak Gubernur agar Sumsel bisa berada di single digit, sehingga diperlukan upaya ekstra melalui berbagai sinergi program,” ungkapnya.
Baca juga: Atlet Indonesia Diakui Berbakat, Tapi Loyo Soal Kebugaran
Menurut Bambang, penanganan kemiskinan harus dilakukan secara terpadu melalui bantuan sosial yang dikaitkan dengan pengembangan ekonomi kerakyatan. Sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, instansi vertikal, serta perbankan menjadi kunci dalam mendorong masyarakat berpendapatan rendah keluar dari garis kemiskinan.
Selain itu, Bambang juga menekankan pentingnya percepatan hilirisasi dan penciptaan iklim investasi yang kondusif untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah. Di sisi lain, Sumsel juga didorong untuk menggali sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Kita perlu mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru seperti ekonomi dan keuangan syariah, pariwisata, serta ekonomi hijau. Ini perlu dirumuskan bersama sejak awal agar pencapaiannya lebih cepat,” ujarnya.
Upaya penguatan ketahanan pangan juga menjadi perhatian, salah satunya melalui program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) Goes to Pesantren. Program ini diharapkan mampu mendukung ketersediaan pasokan pangan sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi pesantren.
“Keberadaan pesantren bisa mendukung ketahanan pangan, program pemerintah seperti MBG, sekaligus menjadi peluang ekonomi. Ini perlu ditopang dengan literasi digital dan infrastruktur yang memadai,” pungkas Bambang.






