BeritaEkonomi & BisnisWisata

Ketelatenan Pengrajin Nipah di SU 1 Palembang, Dari Anyaman Sederhana Jadi Sumber Nafkah

×

Ketelatenan Pengrajin Nipah di SU 1 Palembang, Dari Anyaman Sederhana Jadi Sumber Nafkah

Sebarkan artikel ini
Kampung wisata Anyaman daun nipan di jalan Prajurit Nangyu, 3-4 Ulu Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang Selasa (13/04/2026).

Palembang,SuaraMetropolitan – Di balik sederhana bentuk anyaman daun nipah, tersimpan ketelatenan dan ketekunan para pengrajin di Kampung Wisata Anyaman, Lorong Prajurit Nangyu, Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, Selasa (13/4/2026).

Salah satunya Idah (48), yang telah puluhan tahun menggeluti kerajinan anyaman daun nipah. Baginya, menganyam bukan sekadar pekerjaan, tetapi keterampilan yang diwariskan turun-temurun dari keluarganya.

“Saya mulai belajar sejak kecil, diajarkan orang tua. Awalnya sulit, tapi lama-lama terbiasa. Butuh kesabaran untuk bisa rapi,” ujarnya.

Setiap hari, Idah mengolah daun nipah menjadi berbagai produk seperti piring makan, keranjang tahu, ketupat, hingga sapu lidi. Meski terlihat sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan waktu yang tidak singkat.

Menurutnya, bahan baku daun nipah yang telah dikupas dibeli seharga Rp10.000, sementara yang belum dikupas sekitar Rp5.000. Dari bahan tersebut, ia dapat menghasilkan kerajinan yang kemudian dijual dengan harga Rp2.000 hingga Rp15.000 per buah.

Idah (48) sedang menganyam dan membuat sebuah kerajinan tampan besar di jalan Lorong Prajurit Nangyu, 3-4 Ulu Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang Selasa (13/04/2026).

“Dari sini kami bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Walaupun tidak besar, tapi cukup untuk bertahan,” katanya.

Hal senada disampaikan Dahlia (51), yang juga memanfaatkan seluruh bagian daun nipah untuk bernilai ekonomi. Selain dijadikan kerajinan, daun nipah juga diolah menjadi bahan rokok tradisional.
“Daunnya dipakai untuk rokok pucuk, sedangkan lidinya untuk anyaman seperti piring dan keranjang,” jelas Dahlia.

Ia menjual daun nipah kering seharga Rp30.000 per ikat, dengan isi sekitar 50 lembar daun. Produk tersebut biasanya dibeli oleh perajin rokok tradisional.

Di sisi lain, keberlangsungan usaha para pengrajin ini juga bergantung pada pasokan bahan baku. Juhdan (56), salah satu pemasok, mengatakan daun nipah didatangkan dari wilayah Sungsang dan sekitarnya melalui jalur perairan.

“Barangnya datang pakai perahu dari daerah pesisir. Satuannya disebut peruyun, isinya sekitar 100 sampai 150 lembar daun,” ungkapnya.

Informasi diatas ditulis oleh Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang 

Tinggalkan Balasan

error: Maaf ya, kalau beritanya bagus di share saja.