Connect with us

Umum

Ada Sejarah, Kenapa WNI Nonpri Tak Boleh Punya Tanah Di Yogya

Published

on

Spread the love

Warga Negara Indonesia (WNI) nonpribumi termasuk keturunan China tidak memiliki hak milik atas tanah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mereka hanya bisa memiliki Hak Guna Bangunan (HGB) dan sejenisnya. Apa sebabnya?

Pakar Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Suhartono menuturkan ada faktor historis mengenai larangan WNI nonpribumi memiliki tanah di Yogyakarta. Larangan itu telah tertuang dalam Surat Instruksi Wakil Kepala Daerah (Wagub) DIY No K.898/i/A/1975.

“Kalau istilah saya (ada) dendam kultural,” jelas Suhartono saat ditemui detikcom di kediamannya di Sleman, DIY.

Menurutnya dalam kacamata sejarah, dendam itu dilatarbelakangi oleh sikap kalangan Tionghoa yang terkesan mengeksploitasi kalangan pribumi pada masa kolonial Hindia Belanda. Selain itu, adanya aktivitas menjual candu diyakini turut menjadi salah penyebab.

Ada Sejarah, Kenapa WNI Nonpri Tak Boleh Punya Tanah di YogyaFoto: Bagus Kurniawan/detikom
Sementara pada masa itu, lanjut Suhartono, kalangan Tionghoa terkesan dilindungi politik kolonial. Atas dukungan itu akhirnya mereka berhasil tampil sebagai salah satu ekonomi terkuat, kondisi sebaliknya dialami kalangan pribumi.“Ada dasar historisnya itu hingga ada aturan tersebut,” ungkap penulis buku ‘Apanage dan Bekel, Perubahan Sosial di Pedesaan Surakarta, 1830-1920’ itu.

Menurut Suhartono, kendati ditandatangani Paku Alam VIII, namun pada dasarnya larangan tersebut keluar karena titah Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat masa itu, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX.

“Ya PA (Paku Alam VIII) kan pelaku saja istilahnya. Jadi tetap atas dhawuh (perintah) pejabat tertinggi, Sultan (HB IX),” katanya.

Suhartono kemudian menjelaskan mengenai sejarah pertanahan di Yogyakarta. Menurutnya sistem pertanahan di Yogyakarta sebelum republik pada dasarnya sama seperti kerajaan lainnya yang menganut prinsip belong to the king, tanah milik raja.Tanah kerajaan itu kemudian didistribusikan kepada para pejabat di lingkungan istana termasuk ke para abdi dalem. Kendati dibagikan, tetapi status tanah itu tetap milik kerajaan yang tidak bisa diwariskan oleh pejabat atau abdi dalem.

“Tentu saja tanah itu sebagai tanah kerajaan, ya sebenarnya tanah jabatan. Jadi kalau meninggal ya dikembalikan ke kerajaan, nanti kerajaan yang akan membagi lagi,” jelas Suhartono.

Namun keadaan berubah ketika keberadaan pemerintah Hindia Belanda semakin mantap di Jawa. Melalui program cultuur stelsel yang kemudian dilanjutkan dengan politik pintu terbuka, kala itu banyak tanah-tanah kerajaan yang disewakan.“Jadi hak tanah itu tetap ada pada raja, sehingga nanti persewaan-persewaan atas tanah (yang dijadikan perkebunan di masa kolonial Hindia Belanda) ya belong to the king atau belong to the pangeran yang menerima uang sewanya,” tuturnya.

Sumber: Detik.com
Usman Hadi- detiknews

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Danang: Ditutupnya Kalahari Resto Pegawai Akan Jadi Relawan Bantu Tim Medis

Published

on

Spread the love

Gunungkidul, Suarametropolitan.com — Lonjakan penularan Covid-19 kian meningkat. Korban jiwa berjatuhan dimana-mana, rumah sakit mengaku kekurangan tenaga medis, oksigen dan ruang ICU. Kondisi seperti ini sangat mengetuk bagi siapa saja untuk peduli terhadap keselamatan bersama.

Situasi wilayah Gunungkidul yang demikian, kepedulian pihak Kalahari Resto and Cafe yang merupakan sebuah perusahaan kuliner di Kecamatan Wonosari, akan meliburkan tempat usahanya. Tidak hanya itu, sebagai bentuk lain support terhadap upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19, sejumlah pegawai Kalahari dengan sadar rela menjadi relawan.

Menurut owner yakni Danang Ardianta, bawasanya keputusan meliburkan restoran dan cafe yang tengah naik daun dengan konsep nuansa Bali-Jawa ini bukan tanpa alasan kuat. Hal tersebut dilakukan karena kondisi penyebaran covid-19, yang sangat massive di Gunungkidul.

Sifatnya penutupan sementara tempat usaha ini, sebagai bentuk keprihatinan kami di dunia kesehatan dan mengedukasi kepada masyarakat akan pentingnya kesehatan, menjaga keselamatan diri, keluarga dan kerabat agar tidak terpapar Virus yang berbahaya atau Covid-19,ini.

“Melindungi keluarga saya dan seluruh pegawai Kalahari juga lingkungan sekitar,” kata Danang Ardianta, pemilik Resto Kalahari, Rabu (30/06/2021).

Lebih lanjut Danang mengatakan bahwa penutupan dilakukan mulai Tanggal 1 Juli sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

“Ini adalah inisiatif sendiri berdasarkan kesadaran, bukan karena salah satu dari pihak Kalahari ada yang terpapar covid atau paksaan dari pihak manapun,” jelasnya.

Pihaknya juga meminta maaf kepada pelanggan yang sudah reservasi tempat, dengan sangat terpaksa membatalkannya.

“Kami hanya melayani pembelian makan minum dengan reservasi online ke nomor WA 081325257474,” terangnya.

Harapan Danang (Owner Kafe), berawal dari gerakan ini, seluruh masyarakat memiliki kesadaran yang sama, menjunjung tinggi himbauan pemerintah dan membantu dalam upaya menghentikan penyebaran covid-19 untuk senantiasa menerapkan PROKES dimanapun berada.

(Reporter).

Continue Reading

Nasional

Gunungkidul: Gantung Diri Belum Ada Solusi, Masih Ada Juga Yang Nekat

Published

on

Spread the love

 

Gunungkidul, (26/05/2021), Suarametropolitan.com, — Terjerjadi orang meninggal dengan cara gantung diri, identitas korban bernama Suprapto, Gunungkidul, 09 Juli 1960, Kasihan, Balong, Girisubo, Gunungkidul, DIY.

Sekira pukul 06.30, Tukiyah kerumah korban untuk mengantar sarapan. Sewaktu akan membuka pintu depan ternyata masih terkunci sehingga saksi lewat pintu belakang, sesampai didalam rumah Tukiyah terkejut melihat korban sudah tergantung diruang tengah. Melihat hal tersebut kemudian memanggil tetangga lainya mengabarkan bahwa korban meninggal gantung diri lalu melaporkan kepihak kepolisian setempat.

Setelah polisi menerima laporan kemudian langsung mendatangi TKP dan melaksanakan olah TKP, selanjutnya Koordinasi dengan petugas Puskesmas, mengidentitas saksi dan korban lalu melaksanakan visum luar bersama petugas puskesma Girisubo.

“Pada tubuh korban tidak ada tanda tanda bekas penganiayaan atau luka yang tidak wajar, selama hidupnya korban tidak memiliki keluhan penyakit apapun”, terang salah satu petugas kepolisian polsek Girisubo.

Kapolsek Gieisubo, AKP Wasdiyanto menerangkan bahwa peristiwa tersebut di ketahui pertama kali oleh kerabat Suprapto yang pagi itu hendak mengantar makanan. Namun ketika akan masuk rumah, masih mendapatinointu dalam keadaan terkunci.

“Kemudian Tukiyah masuk melalui pintu belakang, dan mendapati Suprapyo sudah dalam keadaan tergantung dengan seutas tali di ruang tengah rumahnya.” jelasnya

Diketahui latar belakang korban ber KTP di padukuhan lain yaitu di dudun Kasihan Kalurahan Balong kemudian korban tinggal sendir di rumah kerabat yang berada di dusun Balong Kalurahan Balong.

Setelah dilaksankan oleh TKP kemudian korban diserahkan kepada keluarga korban, untuk dimakamkan.

(Redaksi)

 

Continue Reading

Peristiwa

Telah Meninggalkan rumah Sularto Warga ngelo rt 02/10 Kemadang Tanjungsari

Published

on

Spread the love

 

Gunungkidul, Suarametropolitan.com – Meninggalkan rumah sekitar Pukul 23:30, dengan mengenakan pakaian batik warna putih, celana adidas, tangan kanan ada bekas jahitan habis operasi.
Atas perintah komandan SAR DIY Distrik GK dari mako pukul 22.00 wib menerjurkan 15 personil dengan 3 armada R4 ditambah 1armada R2.

Personil melakukan assesment dan mengadakan koordinasi dengan keluarga, warga, serta potensi lain kemudian membagi 3 sru yaitu,
SRU 1: 8 personil dibantu warga melakukan penyisiran di sisi kiri titik terakhir di ketahui (perbukitan), SRU 2: 9 personil juga dibantu warga untuk menyisir dari sisi kanan atau titik terakhir di ketahui, (persawahan). SRU 3: 2 personil menyisir atas dasar validasi informasi dari masyarakat atau saksi-saksi yang berhasil dihimpun. (23:00.Wib).

Pukul 01.15 wib Informasi dari SRU 3 yang melakukan validasi dari saksi-saksi menyatakan bahwa jam 8pagi survivor diketahui berjalan di jalan pemukiman di dusun Kelepu Banjarejo desa sebelah mengarah ke arah Kantor kecamatan Tanjungsari jarak _+ 2kilo
Kemudian seluruh SRU ditarik mundur untuk kembali melakukan koordinasi.

Salah satu anggota SAR DIY, Nyanyang membenarkan bahwa memang benar adanya warga yang tengah dalam pencarian karena telah meninggalkan rumah tanpa berpamitan.

“Malam ini kami dan jajaran tim relawan serta warga masyarakat melakukan penyisiran atau pencarian kepada saudara Sularto yang pergi tanpa berpamitan”, Terang Nyanyang.

Dari hasil olah data lapangan dan koordinasi dengan pihak keluarga, warga, pemangku wilayah, dan potensi terlibat maka diputuskan untuk menghentikan pencarian dan mengarahkan pihak keluarga untuk segera melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian setempat.

Personil lengkap kembali ke mako SAR DIY Distrik GK pukul 01.45 wib. Potensi terlibat adalah, SAR DIY, Tagana, Warga dukuh setempat.

(Redaksi)

 

Continue Reading

Berita Terpopuler