BeritaNasional

Batalnya Tanazul, DPR Ingatkan Bahaya Kepadatan dan Kelaparan Jemaah di Mina

×

Batalnya Tanazul, DPR Ingatkan Bahaya Kepadatan dan Kelaparan Jemaah di Mina

Sebarkan artikel ini
Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI Selly Andriany Gantina.

Makkah,SuaraMetropolitan Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Selly Andriany Gantina, mendesak agar Tim Kesehatan Haji Indonesia meningkatkan kesiagaan dan bekerja secara optimal selama fase puncak ibadah haji di Mina. Desakan ini menyusul keputusan otoritas Arab Saudi yang membatalkan program tanazul bagi 37.000 jemaah.

Selly mengungkapkan bahwa pembatalan program tanazul—yang selama ini berfungsi mengurangi kepadatan jemaah di Mina—berdampak langsung pada lonjakan jumlah jemaah di area tenda. Kini, seluruh jemaah, baik yang reguler maupun yang sebelumnya dijadwalkan untuk tanazul, harus berbagi ruang yang terbatas di Mina.

“Tim Kesehatan harus betul-betul maksimal selama di Mina karena banyak jemaah yang tidak kebagian tenda. Mereka sudah kelelahan berjalan dari Muzdalifah ke Mina, tapi sampai di Mina tidak ada tempat istirahat yang layak,” ujar Selly di Makkah, Kamis (5/6/2025).

Baca juga: Niat Ibadah Jalur Salah, Ribuan Calon Haji Dicegat Petugas Imigrasi

Program tanazul sendiri merupakan fasilitas yang memungkinkan jemaah lansia atau berisiko tinggi untuk kembali lebih awal ke hotel di Makkah setelah melaksanakan lempar jumrah Aqabah, sehingga tidak perlu bermalam penuh di Mina. Tahun ini, fasilitas tersebut dibatalkan secara sepihak oleh otoritas Saudi, menimbulkan tantangan baru dalam pengelolaan jemaah.

Selain masalah tempat istirahat, Selly menyoroti dampaknya terhadap distribusi logistik, terutama makanan.

Baca juga: Sesak dan Tak Layak, Ketua Timwas DPR Soroti Tenda Jemaah Haji di Arafah

“Seharusnya makanan untuk 37.000 jemaah yang tanazul disiapkan di hotel, tapi sekarang harus ditambah di Mina. Kalau tidak diantisipasi, mereka bisa kelaparan. Ini bahaya, apalagi kondisi fisik jemaah sudah menurun,” tegas politisi Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.

Ia menambahkan bahwa Tim Kesehatan perlu siaga penuh untuk menghadapi beban fisik dan mental yang semakin berat, terutama bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas.

“Kesehatan jemaah harus jadi prioritas utama. Kita tidak ingin ada kejadian yang mengancam keselamatan karena lemahnya antisipasi. Ini jadi tanggung jawab bersama, terutama bagi tim medis di lapangan,” lanjutnya. (*)

Tinggalkan Balasan

error: Maaf ya, kalau beritanya bagus di share saja.