Connect with us

Budaya

Destinasi Wisata Telaga Jonge, Memiliki Sejarah Asal Usulnya

Published

on

Spread the love

Gunungkidul, (29/09/2020), Suarametropolitan.com, — Telaga yang berada ditengah perkampungan penduduk yakni telaga jonge, tidak pernah surut meskipun dampak kemarau panjang sekalipun. Telaga tersebut diyakini sebagian warga masyarakat menyimpan sejarah asal usulnya.(red)

Kutipan id.m Wikipedia.org
Telaga Jonge merupakan objek wisata telaga yang terdapat di Pedukuhan Jonge, Kalurahan Pancarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Terletak kurang lebih 7Km arah timur kota Wonosari dan atau 5Km arah barat Kecamatan Semanu. Telaga Jonge yang luasnya hampir 3 hektar dengan dikelilingi hutan buatan sebagai perindang sehingga asri. Telaga Jonge tidak pernah kering sepanjang tahun. Airnya masih dimanfaatkan untuk mandi warga sekitar, jika musim kemarau panjang.

Sebagai petilasan, telaga ini setiap harinya banyak dikunjungi oleh banyak orang, hanya sekadar memohon doa ataupun hanya sekadar menikmati kesegaran telaga. Mitos yang berkembang di masyarakat tentang telaga ini menjadi hal yang perlu diperhatikan, ketika berada ditelaga ini jangan dilarang mengucapkan kata- kata kotor, berciuman dan jangan melakukan hal yang berbau dengan perzinaan. Telaga ini memang dari masyarakat menjadi tempat yang suci dan jauh dari dosa.

Telaga Jonge menyimpan cerita yang panjang untuk ditelusuri. Berawal dari kisah seorang Kyai bernama Kyai Jonge, yang berhasil selamat dari hantaman ombak laut selatan yang kemudian singgah dibeberapa tempat di Gunungkidul sampai akhirnya singgah di Desa Pacarejo dan meninggal di tempat itu yang konon setelah Kyai Jonge meninggal maka terbentulah telaga, yang sampai saat ini bernama telaga Jonge.

Diceritakan juga oleh wiyonggoputih.blogsport.com pada Sabtu, 14 April 2018.

Telaga Jonge Yang Penuh Misteri Dan Sejarah

Tidak seperti telaga-telaga lain yang ada di Kabupaten Gunungkidul yang akan mengering ketika musim kemarau, telaga ini justru tetap memiliki air yang melimpah sepanjang tahun. Telaga Jonge memiliki luas sekitar 3 hektare dengan dikelilingi hutan buatan yang membuat pinggiran telaga ini terlihat teduh dan asri. Telaga Jonge terletak di dusun Kwangen, Pacarejo, Semanu.

Tidak seperti telaga-telaga lain yang ada di Kabupaten Gunungkidul yang akan mengering ketika musim kemarau, telaga ini justru tetap memiliki air yang melimpah sepanjang tahun. Telaga Jonge memiliki luas sekitar 3 hektare dengan dikelilingi hutan buatan yang membuat pinggiran telaga ini terlihat teduh dan asri. Telaga Jonge terletak di dusun Kwangen, Pacarejo, Semanu.

Berjarak sekitar 7 km ke arah timur dari pusat kota Wonosari. Lokasinya berdekatan dengan Gua Kalisuci dan Gua Jomblang yang terletak di desa yang sama. Rute yang harus dilalui sama dengan rute menuju ke Kalisuci. Hanya saja jika Kalisuci di perempatan terakhir belok ke kiri sedangkan Telaga Jonge belok ke kanan. Lokasinya tepat berada di depan SMP N 3 Semanu. Jalan yang dilalui untuk menuju telaga ini pun sudah cukup mudah dan cukup bagus. Di telaga ini terdapat makam Kiai Jonge alias Ki Sidiq Wacono alias Ki Soponyono yang merupakan sesepuh dari Majapahit.

Berkat perjuangan Kiai Jonge, telaga tersebut membawa berkah dan selalu mengayomi warga, termasuk para peziarah yang datang dengan berbagai kepentingan. Terlepas dari itu semua, tradisi ini merupakan kearifan budaya yang masih lestari dan dijunjung tinggi dalam masyarakat.

Di tempat ini juga tersedia lapak pedagang yang menyediakan makanan ringan dan menu makan siang serta untuk mie ayam, bakso, nasi dan sebagainya. Hal ini dapat dikatakan sebagai tempat khusus karena air dari tempat ini atau telaga ini tidak pernah kering hanya berkurang pada saat musim kemarau, mungkin karena beberapa tempat atau wilayah di sekitar tempat ini yang masih terjaga kelestariannya dicirikan oleh pertumbuhan pohon-pohon besar di sekitar danau ini, sehingga cadangan air tanah tidak pernah habis meskipun musim kemarau tiba. Semua orang yang datang ke sini harus menjaga lisan karena tempat ini adalah tempat yang penuh dengan sakral dan mistis. Di tempat ini juga dugunakan oleh penduduk untuk mandi setiap hari, mencuci, atau lainnya.

Kyai Jonge adalah salah satu tokoh dalam sejarah Gunungkidul. Dia merupakan pepunden dari Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Makam Kiai Jonge berada di kompleks Telaga Jonge yang berada di dusun Kwangen, Pacarejo, Semanu. Berjarak sekitar 7 km ke arah timur dari pusat kota Wonosari. Lokasinya berdekatan dengan Gua Kalisuci dan Gua Jomblang yang terletak di desa yang sama. Tidak seperti telaga-telaga lain yang ada di Kabupaten Gunungkidul yang akan mengering ketika musim kemarau, telaga ini justru tetap memiliki air yang melimpah sepanjang tahun. Telaga Jonge memiliki luas sekitar 3 hektar dengan dikelilingi hutan buatan yang membuat pinggiran telaga ini terlihat teduh dan asri.

Kiai Jonge merupakan salah satu penasehat spiritual dari Ki Ageng Giring atau Ki Ageng Wonokusumo. Beliau adalah tokoh dari Kerajaan Majapahit yang meninggalkan kerajaan, namun akhirnya masuk Islam. Makamnya terdapat di tengah-tengah Telaga Jonge. Pusara dibangun di sebelah timur telaga dengan bentuk kotak, tidak persegi panjang sebagaimana lazimnya sebuah makam.

Warga harus selalu menjaga kebersihan dan kemanfaatan telaga Jonge, untuk kesejahteraan bersama. Telaga ini sangat bermanfaat bagi warga sekitar, biasanya warga sekitar memanfaatkan telaga ini untuk mencuci dan mandi. Tidak jarang pula muda-mudi datang ke tempat ini karena memang suasana yang teduh dan asri di sekitar telaga. Ada juga beberapa warung dan angkringan dari warga sekitar. Di sekitar telaga ini juga telah dibuatkan beberapa tempat duduk dari batang kayu untuk duduk menikmati keindahan Telaga Jonge.

Telaga ini dibersihkan dan dilestarikan melalui tradisi masyarakat. Bahkan dalam tradisi ini, diikuti oleh beberapa orang dari luar DIY. Mereka secara sengaja mendatangi semacam kuburan atau petilasan Kiai Jonge yang terletak di pinggir telaga Jonge wilayah Dusun Kwangen Desa Pacarejo Kecamatan Semanu. Selain itu masyarakat adat menggelar pentas seni di sekitar telaga. Ratusan orang mengelilingi telaga yang berdiri di atas tanah Sultan Ground seluas satu hektar tersebut.

Kesenian jathilan, wayangan, kethoprak dan beberapa tokoh desa setempat ikut mengiringi kirab tersebut. Kearifan lokal tersebut terus dipelihara oleh warga setempat. Dalam tradisi tersebut, menurutnya merupakan bentuk penghormatan pada sosok Kiai Jonge yang dipercaya sebagai penduduk yang paling awal menempati wilayah sekitar telaga tersebut. Mereka juga mengucap syukur lantaran airnya masih bisa terus digunakan bagi kemakmuran masyarakat.

Juru kunci telaga Jonge, Noto Karjo menjelaskan bahwa empat dusun di sekitar jonge seperti Dusun Kwangen lor, Kwangen Kidul, Jelok, Wilayu secara bergotong royong menjaga kebersihan telaga ini. Ia menunjuk tempat persemayaman Kiai Jonge yang merupakan satu-satunya makam yang berada di bawah pohon beringin yang cukup besar, di pinggir telaga yang airnya sepanjang tahun tidak pernah kering.

Bagi warga setempat, Kiai Jonge bukan hanya dipercaya bersemayam di kuburan itu, tetapi juga menunggu telaga agar tetap lestari dan air tidak kering, sehingga bermanfaat bagi masyarakat yang setiap tahunnnya menjadi korban kekeringan. Termasuk mereka tidak berani untuk merusak alam di sekitar Telaga Jonge.

Pesan selanjutnya, warga di sekitar telaga dilarang untuk saling menikah, larangan ini sangat dipatuhi oleh 5 dusun yang ada di sekitar Telaga Jonge itu sendiri. Tradisi tidak saling menikahkan anak di antara lima dusun diawali adanya perseteruan tentang penguburan jasad Kiai Jonge. Dulu kelima dusun tersebut sempat terbagi dalam dua desa, yaitu Desa Menthel dan Desa Kwangen. Kiai Jonge yang berasal dari Kwangen memperistri seorang gadis warga Desa Menthel. Masing-masing warga dari dua desa tersebut menginginkan agar penguburan jenazah tersebut berlokasi di wilayah desa mereka. Karena tak ada kesepahaman, tiap warga membangun kubur bagi Kiai Jonge baik di Desa Menthel maupun Kwangen.

Hingga kini ada dua kuburan Kiai Jonge, yaitu di tengah ladang penduduk di Dusun Mojosari serta di tengah Telaga Jonge. Awalnya pantangan ini hanya berlaku selama sembilan generasi di lima dusun tersebut, namun hingga saat ini tetap tidak ada warga yang berani melanggarnya.

SM~Supadiyono

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Pesan H.Sunaryanta: Jangan Sampai Hal Yang Berkaitan Dengan Alam Dijual Belikan

Published

on

Spread the love

 

Gunungkidul, (21/04/2021), Suarametropolitan.com — Menurut laporan kegiatan humas kriminal 2 yang disampaikan melalui Grup Whatsapp, pada Hari Selasa tanggal 20 April 2021 Pukul 16.30 wib di komplek masjid Al Falah dan balai Kalurahan Nglindur dilaksanakan kegiatan buka bersama.

Hadir dalam acara buka bersama tersebut, Bupati Gunungkidul H.Sunaryanta, Panewu Girisubo Alsito,S.Sos, Kapolres Gunungkidul
AKBP Agus Setiawan S.I.K, Dandim 0730 Gunungkidul Letkol Noppy Laksana Armyanto,Kapolsek Girisubo
Akp Wasdiyanto, SH, Danposmil Peltu Hervianto.

Takmir masjid Al Falah memberi sambutan berisikan harapan kepada pemerintah kabupaten Gunungkidul, agar mendampingi supaya wilayahnya tidak dikuasai oleh pihak lain.
“Semoga pemerintah kabupaten agar senantiasa mendampingi agar wilayah tidak dikuasai oleh pihak lain
-semoga bapak bupati bisa mengayomi dan sukses selalu, dan menjadi pantutan bagi warga gunungkidul yang sejahtera”, sambut Takmir.

Kemudian H.Sunaryanta memberikan tanggapan sebagai bentuk terimakasih atas pengadaan buka bersama, dan menyampaikan beberapa prediksi kedepan untuk wilayah Girisubo.

“Mudah-mudahan senantiasa diberikan kelancaran lahir dan bathin bagi warga girisubo dan sekitarnya
-suatu kebanggaan bisa berkumpul dalam acara ini karna dalam sekian banyaknya masjid tidak sempat dikunjungi semua, masjid al falah, nglindur, girisubo adalah masjid pertama kali bagi saya berkunjung,
wilayah selatan suatu saat nanti bisa jadi bukan milik masyarakat, bisa jadi milik orang lain atau diambil alih, di tahun 2023 akan terkoneksi semua, tentu ekonomi akan meningkat, untuk itu jangan sampai hal yang berkaitan dengan alam dijual belikan, karna tidak tau kedepannya akan seperti apa
fenomena yang terjadi di gunungkidul, perceraian termasuk kasus yg cukup luar biasa di gunungkidul dan kasus bunuh diri juga dimohon dengan sangat tolong orang-orang terdekat agar dikasih tau, dan memberi pencerahan kepada orang-orang tersebut.sampah dibuang sembarangan tolong jangan sampai ada kejadian lagi maupun kejadian kekerasan yang sekarang ini sedang marak maraknya”, sambutnya.

Dalam acara tersebut juga menyampaikan bentuk bingkisan bantuan dana romadhon sebesar 3 juta rupiah, Bingkisan safari romadhon 3 unit wireless portable, serta Bingkisan bantuan tempat ibadah dari sarpras Kabupaten Gunungkidul sejumlah 5 juta rupiah.

(Rep/post: Supadiyono)

Continue Reading

Budaya

Rumah Sehat Grand Wijaya Hadir Di Palembang

Published

on

Spread the love

Palembang, Suarametropolitan.com — Manager Unit Pelayanan Pengendalian Pembangkit Sektor Keramasan, Daryanto meresmikan Rumah Sehat Grand Wijaya Persada di Jalan Pendawa No 50, Minggu (11/04). Peresmian klinik kesehatan bagi karyawan PT. Grand Wijaya dan masyarakat umum ini dilakukan secara simbolis dengan pemotongan pita dan didampingi oleh Owner PT. Grand Wijaya, Haji Wijaya dan Penanggung jawab Rumah Sehat dr. RR. Dita Nurul Savitri.

Dalam sambutannya, Daryanto menyampaikan apresiasinya terhadap PT. Grand Wijaya Persada karena hal ini adalah terobosan yang baru dilakukan oleh mitra PT. PLN (Persero). “Kami akan mensupport sepenuhnya terhadap terobosan ini. Dan bilamana perlu dikembangkan di wilayah UPPDK Keramasan, karena banyak mitra PLN yang memiliki karyawan di sana,” ungkapnya.

Menurut sang owner, Haji Wijaya, PT. Grand Wijaya telah banyak membuat program guna kepentingan karyawannya. Rumah Sehat Grand Wijaya Persada ini merupakan salah satu terobosan baru di bidang pelayanan yang bertujuan untuk memanusiakan manusia.

Masyarakat yang berhak mengakses Rumah Sehat Grand Wijaya bukan hanya karyawan, tetapi juga masyarakat umum, baik yang tinggal di sekitar perusahaan, maupun dari tempat lain. Kami tetap memberikan pelayanan yang sama dan terbaik untuk masyarakat yang datang,” ungkap H Wijaya.

Rumah Sehat Grand Wijaya Persada saat ini memiliki dua dokter, satu apoteker, satu asisten apoteker, dan dua perawat. Pelayanan dibuka setiap hari kecuali hari libur, mulai pukul 09.00 – 14.00 lalu jam 18.00 – 21.00. Syarat bagi pasien cukup mendaftarkan diri di rumah sehat baik secara umum, maupun sebagai pengguna BPJS Kesehatan.

Kedepan manajemen PT. Grand Wijaya Persada akan memperluas cakupan rumah sehat. Tidak hanya di Palembang saja, tetapi juga ke kabupaten/kota lain di Sumatera Selatan. Pastinya, Rumah Sehat Grand Wijaya bekerja sama dengan berbagai rumah sakit, baik tipe A, B, atau C sehingga pasien Rumah Sehat Grand Wijaya Persada dapat terlayani dengan baik.

Sumber: mattanews.co

Continue Reading

Budaya

Waka DPD RI Dukung Penuh Kebijakan Benci Produk Luar Negeri

Published

on

Spread the love

 

JAKARTA Suarametropolitan.com — Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) menggaungkan agar masyarakat mulai membenci produk luar negeri, dan beralih mencintai produk dalam negeri. Hal tersebut bertujuan agar penjualan dari produsen lokal bisa meningkat ke depannya.

Orang nomor satu di tanah air ini menegaskan, dengan adanya rasa cinta terhadap produk lokal, akan menempatkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di tempat yang strategis.

Wakil Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin menyambut baik gaungan Presiden Jokowi. Menurut senator muda asal Bengkulu ini, masyarakat bisa menjadi konsumen yang loyal untuk produk-produk dalam negeri.

“270 juta jiwa penduduk Indonesia, saya rasa bila semuanya mencintai produk lokal, akan membuat produsen-produsen dalam negeri semakin bergairah. Kualitas produk dalam negeri pun juga mendunia, jadi produk Indonesia sebenarnya mendunia,” ujar Sultan B Najamudin dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/3/2021).

Mantan Wakil Gubernur Bengkulu ini juga mendukung strategi Kementerian Perdagangan, yang dimana mall harus menempatkan merek atau brand lokal di depan atau dekat pintu masuk.

Untuk itu, sambung pria yang akrab disapa SBN ini, pemerintah harus bisa menyiapkan aturan yang bisa mendorong para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal lebih mengerti segi permintaan pasar seperti apa agar bisa bersaing dengan merek asing.

“Dengan menghadirkan produk lokal dibagian depan mall-mall, ini merupakan strategi dagang yang cerdas. Sehingga mata para produsen langsung tertuju terhadap produk lokal,” beber Sultan.

“Namun begitu, pemerintah harus memberikan imbauan kepada pengelola mall-mall, agar memberikan tarif sewa yang rendah kepada merek lokal,” sambung Sultan.

Terakhir, senator muda asal Bengkulu ini berharap, dengan adanya strategi tersebut bisa memajukan para pelaku UMKM yang sempat terpuruk dihantam badai pandemi Covid-19 setahun lalu.

“Saya berharap strategi ini berjalan dengan baik, sehingga para UMKM yang tengah berjuang kembali ini bisa menemukan jalan menuju kesuksesan. Ingat, pelaku UMKM ini adalah tulang punggung ekonomi nasional,” harap kader jebolan HIPMI ini.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Indonesia pada Januari 2021 tercatat US$13,34 miliar, turun 6,49% dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai US$14,27 miliar.

Berdasarkan penggunaan barang, seluruh jenis impor terkontraksi cukup tajam. Nilai impor konsumsi tercatat US$1,42 miliar, turun 17% secara bulanan dan 2,92% secara tahunan.

Secara bulanan, anjloknya impor terjadi karena penurunan impor bawang putih dari Tiongkok, makanan beku dari India, apel Tiongkok, susu dari Selandia Baru, dan anggur segar Tiongkok.

Selanjutnya, impor bahan baku atau penolong nilainya sebesar US$9,93 miliar, anjlok 2,62% secara bulanan dan 6,1% secara tahunan. Penurunan secara bulanan disumbang impor minyak kedelai dari Argentina dan transmisi aparatur Tiongkok.

Kemudian, nilai impor barang modal tercatat US$1,99 miliar, turun tajam 21,23% secara bulanan akibat penurunan impor berbagai jenis mesin dari Tiongkok dan Italia. Nilai impor barang modal turut anjlok 10,72% secara tahunan.

(Redaksi)

Continue Reading

Berita Terpopuler