Connect with us

Pendidikan

Organisasi Pramuka SMAN 1. Wonosari, Mengadakan Kegiatan Ekstra

Published

on

Spread the love

Gunungkidul, (08/02/2020) SuaraMetropolitan.com. Giat pengenalan medan (Haiking) oleh peserta Pramuka, SMAN 1. Wonosari, Gunungkidul, pada Minggu, 08-02-2020. Merupakan bentuk pelajaran yang di rekomendasi dari pihak sekolah yakni pendidikan ektra, dengan tujuan memberikan pengalaman dasar bagi siswa didik, khusus dalam kegiatan Pramuka secara umum.

Pada kesempatan ini, semua peserta berangkat dari lokasi SMAN 1. Wonosari, menuju bumi perkemahan pantai sundak, Gunungkidul sebagaimana yang sudah direncanakan oleh seluruh pembina dan pendamping giat Pramuka, dengan berjalan kaki, sampai lokasi.

Menurut pendaping yang tidak mau disebut namanya di res area Hargosari, Tanjungsari, Gunungkidul, meberikan keterangan kepada awak media bahwa, kegiatan pramuka pada kesempatan ini merupakan bentuk pengenalan medan dengan maksud agar peserta mendapatkan pengalaman langsung dan bisa mengambil hikmah di sepanjang perjalananya.Gambar/foto:Supadiyono

“Disamping memperkenalkan medan kepada peserta pramuka, ada satu hal yang penting bagi mereka. Yaitu agar punya rasa senasib dan sepenanggungan” paparnya.

“Hal demikian memang harus kita tanamkan kepada mereka, agar nantinya bisa di amalkan setelah selesai mengikuti kegiatan ini” pungkasnya.

Sejarah berdirinya Pramuka Di Indonesia, menurut sumber yang kami ambil dari Detik.com, (nwy/nwy). sebagai berikut.

Sejarah Lahirnya Hari Pramuka di Indonesia

Jakarta – Selain Hari kemerdekaan Indonesia, ada hari istimewa di bulan Agustus, yakni Hari Pramuka Nasional. Lantas, tahukah sejarah berdirinya pramuka di Indonesia?

Tanggal 14 Agustus disahkan menjadi Hari Pramuka, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 448 Tahun 1961. Kepramukaan merupakan proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga. Selain itu merupakan sistem pendidikan kepanduan yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan masyarakat, serta bangsa Indonesia.

Gerakan Praja Muda Karana (Pramuka) memiliki sejarah yang turut berkontribusi dalam perjalanan bangsa. Lahirnya Pramuka di Indonesia turut menyulut berdirinya pergerakan nasional. Berikut sejarah Lahirnya Hari Pramuka di Indonesia, dikutip dari berbagai sumber:

1. Awal Mula Berkembangnya Pramuka

Sebelum menggema di Indonesia, Pramuka telah berkembang terlebih dahulu di Inggris, lewat pembinaan remaja yang dilakukan oleh Lord Robert Baden Powell of Gilwell. Powell diketahui memiliki banyak pengalaman dan keterampilan survival. Singkatnya Powell menulis sebuah buku berjudul ‘Aids to Scouting’. Buku yang kemudian menjadi panduan bagi tentara muda Inggris untuk melakukan tugasnya. Setelah itu, pimpinan Boys Brigade di Inggris meminta Powell untuk melatih anggotanya.

Pada 1908, Powell kembali menulis buku yang berisi pengalamannya tentang latihan kepramukaan. Buku ini berjudul ‘Scouting for Boy’ dan kemudian menyebar dengan cepat di Inggris, dan negara lain, termasuk Indonesia.

2. Masuk ke Indonesia

Dikutip dari buku ‘Pemikiran dan Perilaku Politik Kiai Haji Ahmad Dahlan’, berawal dari gerakan kepanduan yang muncul di Inggris, berkembang, dan menyebar ke Belanda hingga akhirnya masuk ke Indonesia. Gerakan kepanduan di Hindia Belanda didirikan pada tahun 1912 di Jakarta, bernama Nederlands Padvinders Vereeniging (NPV), sebelum berganti nama Nederlands Indische Padvinders-Vereeniging pada 4 September 1917. Gerakan ini sebagai bagian dari kepanduan Nederlands Padvinders Organisatie (NPO), yang berpusat di Belanda.

Kemudian gerakan kepanduan di nusantara oleh pribumi dibuat pada 1916, diprakarsai oleh Pangeran A.A. Mangkunegara VII tanpa campur tangan dari Belanda. Organisasi itu diberi nama Javaansche Padvinders Organisatie (JPO). Lahirnya JPO menjadi penyemangat berdirinya organisasi kepanduan lain di Indonesia pada saat itu, seperti JJP (jong java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamftsche Padvinderzj), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), dan Padvinders Muhammadiyah yang kemudian menjadi nama Hizbul Wathan atau HW.

3. Berperan Dalam Tercetusnya Sumpah Pemuda

Setelah dilarang menggunakan istilah Padvindery oleh Pemerintah Hindia Belanda. KH Agus Salim mencetuskan ide untuk mengganti Padvenders dengan nama pandu atau kepanduan. Sejarah juga telah mencatat bahwa gerakan pramuka (kepanduaan), turut berperan aktif dalam Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Yang Kemudian tercetusnya sumpah pemuda, sehingga kepanduan Indonesia semakin berkembang.

Dengan meningkatnya kesadaran nasional setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), dan PPS (Pandu Pemuda Sumatra), bergabung menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian tahun 1931 terbentuklah PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia), yang kemudian pada tahun 1938 berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia).

4. Sempat Dilarang di Masa Penjajahan Jepang

Pada masa penjajahan Jepang, organisasi kepanduan dan partai dilarang untuk beraktivitas. Karena para pandu ikut terjun dan bahu-membahu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, idealisme dan semangat tetap menjiwai para pandu.

Barulah setelah Kemerdekaan Indonesia, sejumlah tokoh dari gerakan kepanduan Indonesia berkumpul untuk melakukan pertemuan di Solo. Dari hasil kongres pada 28 Desember 1945 terbentuk Pandu Rakyat Indonesia dan menjadi satu-satunya organisasi kepanduan Indonesia dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Nomor 93/Bhg.A, tanggal 1 Februari 1947.

5. Perkembangan Organisasi Kepanduan

Dikutip dari ‘Panduan Resmi Pramuka’, dijelaskan setelah banyak bermunculan organisasi-organisasi kepanduan. Sehingga Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, mengganti keputusan Nomor 93/Bhg.A, Tanggal 1 Februari 1947, dengan Keputusan Nomor 23441/ Kab, Tanggal 6 September 1951.

Hal ini memungkinkan organisasi kepanduan lain berdiri, selain Pandu Rakyat Indonesia. Maka terbentuklah IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) pada tanggal 16 September 1951, yang diterima menjadi anggota Internasional Conference (Organisasi Kepanduan Sedunia), mewakili Indonesia masuk dalam Far East Regional Scout Officer pada tahun 1953.

Kemudian pada tahun 1954, terbentuklah organisasi POPPINDO (Persaudaraan Organisasi Pandu Puteri Indonesia) dan PKPI (Kepanduan Putri Indonesia) yang melebur menjadi PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).

6. Peleburan Organisasi Kepanduan Bernama Gerakan Pramuka

Dalam kurun waktu 1950-1960 banyak organisasi kepanduan tumbuh di Indonesia. 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam tiga federasi organisasi, yaitu IPINDO, POPPINDO dan PKPI. Pada tanggal 9 Maret 1961, Presiden Soekarno memberikan amanat pemimpin pandu di Istana Merdeka.

Presiden Soekarno menyatakan pembubaran semua organisasi kepanduan di Indonesia, dan kemudian meleburnya menjadi organisasi baru, yang bernama Gerakan Pramuka (https://www.detik.com/tag/pramuka) dengan lambang tunas kelapa. Kehadiran Gerakan Pramuka di Indonesia mendapat tempat penting di Indonesia bertolak pada ketetapan MPRS No. II/ MPRS/ 1960. Presiden Sukarno memberikan amanat kepada pimpinan pandu di Istana Merdeka pada 9 Maret 1961. Amanat itu untuk lebih mengefektifkan kepanduan sebagai komponen penting dalam pembangunan bangsa.

7. Lambang Pramuka

Lambang Pramuka berupa Tunas Kelapa yang kita ketahui saat ini disahkan dalam Keppres Nomor 238 Tahun 1961. Kemudian pada 14 Agustus 1961, secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada masyarakat, setelah Presiden Sukarno menganugerahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keppres Nomor 448 Tahun 1961.

Kemudian bertahan hingga kini tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka Nasional. Hingga kini telah dilaksanakan Jambore Nasional sebanyak 10 kali.

(supadi tw)

Bencana

Gugus Tugas Kecamatan Umbulharjo Sosialisasi Adaptasi Kebiasan Baru

Published

on

Spread the love

 

Yogyakarta, (24/10/20), SuaraMetropolitan.com — Di pimpin Langsung Ketua Gugus Kecamatan yang juga Camat Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta Drs Rumpis Trimintarta kembali melakukan Sosialisasi Adaptasi Kebiasan Baru dan Protokol Kesehatan ke para pelaku usaha, Hotel dan Resto di wilayah kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta.

Gita Anjarwati SKM petugas Surveilans Kelurahan ( Surkel) dari Puskesmas Umbulharjo 2 yang turut serta dalam kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang di lakukan Gugus Tugas dalam rangka sosialisasi Adaptasi Kebiasan Baru dan Penerapan Protokol Kesehatan .

” Ini merupakan kegiatan rutin yang di lakukan Gugus Tugas dalam rangka sosialisasi Adaptasi Kebiasan Baru dan Penerapan Protokol Kesehatan dengan menyasar pelaku usaha seperti hotel , resto dan kantor di wilayah kecamatan Umbulharjo ” demikian Gita Anjarwati kepada Wartawan.

Di tambahkan oleh Gita Anjarwati Fokus Sosialisasi adalah memastikan penerapan Protokol Kesehatan dengan 4 M yaitu Memakai Masker, Mencuci Tangan Pakai Sabun, Menjaga Jarak dan Menghindari Kerumunan.

” kami memastikan penerapan protokol kesehatan benar- benar di laksanakan di tempat publik dan pelaku usaha seperti Resto, Hotel dan perkantoran , sekaligus kami sosialisasi tentang Adaptasi Kebiasan Baru di tempat kerja juga sosialisasi tentang 4 M ” tambah Gita Anjarwati.

Turut serta dalam kegiatan Sekcam Kecamatan Umbulharjo Endah Dwi Dinyastuti SE MM yang berpesan kepada pelaku usaha agar tetap mentaati Protokol Kesehatan dan patuh kepada himbauan dari Pemerintah.

” kami sampaikan bahwa tempat- tempat usaha yang sudah memulai aktifitas wajib menerapkan protokol kesehatan dan harus patuh kepada himbauan dari Pemerintah ” tutur Endah Dwi Dinyastuti.

Tim Gugus yang terdiri dari berbagai Instansi di harapkan mampu memberikan masukan dan ilmu yang mudah di terapkan oleh pelaku usaha dan masyarakat.

” tim monitoring dan sosialisasi terdiri dari Kecamatan, Puskesmas, Polsek, Koramil , Sat Pol PP dan dari instansi lain , harapannya semoga sosialisasi tepat sasaran dan ilmu yang di berikan mudah di terapkan ” pungkasnya.

Rep/Kontributor: Gie Raharjo

Continue Reading

Internasional

Trengginas Merah Putih Ikuti Pendidikan Dan Pelatihan Oleh BPIP

Published

on

Spread the love

Yogyakarta, (08/09/2020) Suarametropolitan.com. Trengginas Merah Putih organisasi Sosial Kemasyarakatan yang telah berbadan hukum terus aktif mengikuti kegiatan yang di selenggarakan oleh Pemerintah ataupun bersama dengan Ormas lain ikut berperan aktif dalam kegiatan Sosial di masyarakat.

Kali ini Trengginas Merah Putih mengirimkan dua personil terbaiknya Tugiman dan Ardiyansyah Al Erta SE untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila bagi Ormas yang di selenggarakan BPIP di Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta Jalan Laksda Adisucipto Maguwoharjo Sleman Yogyakarta tanggal 8 September sampai dengan 11 September 2020.

Keputusan mengirim dua Pengurus terbaik di ambil melalui rapat pleno yang di pimpin langsung Ketua Umum Heru Nugroho S.Sos.

Heru Nugroho S.Sos menyampaikan bahwa dengan keikutsertaan TGMP di Pendidikan dan Pelatihan ini semoga ke depan Ormas beserta anggota lebih mampu memahami nilai yang terkandung di dalam Pancasila dan mengamalkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

” Keikutsertaan kami semoga nantinya bisa menjadi lebih paham dengan nilai- nilai yang terkandung dalam Pancasila dan mampu mengamalkan di kehidupan sehari-hari, kehidupan berbangsa dan bernegara ” Demikian Heru Nugroho kepada wartawan.

Di tempat yang sama Bharoto Singgih Nugroho Sekertaris Umum TGMP menambahkan, dengan di kirimkanya dua putra terbaik organisasi di Pendidikan dan Pelatihan semoga ke depan dapat bermanfaat untuk masyarakat bangsa dan negara.

” Semoga dengan keikutsertaan dua personil terbaik kami,dapat memberikan manfaat kepada masyarakat bangsa dan negara ” Tambah Bharoto Singgih Nugroho.

Sementara itu dua personil yang di tugaskan Tugiman dan Ardiyansyah Al Erta belum dapat di hubungi wartawan di karenakan sedang mengikuti rapid test sebagai tahapan yang harus di lalui sebelum mengikuti Pendidikan dan Pelatihan yang di selenggarakan selama 5 hari kedepan.

Nampak di ruang Pendidikan dan Pelatihan semua peserta mengikuti tahapan sebelum di mulainya acara dengan tertib dan mengikuti Protokol kesehatan.

Reporter : Gie Rahardjo

Continue Reading

Budaya

Gebal Wood Craft Pengrajin Pernak – Pernik Kayu Langka, Banyak Kreasi

Published

on

Spread the love

Gunungkidul – (31/08/2029). Suarametropolitan.com. Sebagai upaya pengalihan profesi aslinya, Aang (Angling) warga Padukuhan Gedangsari, Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul, membuat sebuah kreasi unik yakni pernak – pernik dari bahan kayu tidak layak guna.

Sebenarnya kayu – kayu tersebut sudah jarang tumbuh diwilayahnya. Karena memang kayu tersebut sudah berupa pangkal yang sudah kering atau lapuk atau ada juga jenis kayu sisa – sisa kepunahan (fosil).

Dari jiwa kreatifitasnya seni, Ia mampu menempatkan bahan dari kayu tersebut menjadi seni yang benilai tinggi, sehingga dapat mendatangkan penikmat dan Aang bisa mendapatkan income hingga jutaan Rupiah.

” Seni kayu yang kami bikin merupakan bentuk tekstur alami. Saya tidak merubah bentuk kayu yang sudah terbentuk oleh alam. Misalnya kayu sudah bengkok atau bolong rapuh itu saya ikuti arah serat – seratnya,” Papar Aang ( 31/08.

Beberapan jenis seni kayu yang dihasilkan yaitu bermacam – macam yakni untuk lampu tidur, tempat abu rokok, kotak simpanan barang berharga, kap lampu hias dan bermacam – macam model pipa untuk merokok, dan juga warongko untuk senjata pusaka (keris).

” Hingga saat ini hasil karya yang saya sajikan, hampir keseluruhanya diminati penikmat seni. Sehingga saya dan beberapa rekan membikin disetiap harinya,” Ujar Aang.

Ditambahkan juga, hasil karya unik ini sudah dibuatkan gallery untuk upaya menambah pemasukan sembari menunggu pelanggan ditempat jualanya atau toko alat – alat motor dan sparepart senapan, sekaligus perbaikan senapan angin atau gas.

” usaha pokok saya adalah penjualan sparepart motor beserta perbaikan dan penjualan sparepart senapan angin juga perbaikanya,” Pungkasnya.

Pelayanan pesanan seni kayu ini bisa hubungi nomor whatsapp – Aang 0821-3636-3164.

Sm~(Spd)

 

Continue Reading

Berita Terpopuler