PALEMBANG, Suara Metropolitan – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang sukses menggelar Annual International Conference on Dakwah and Islamic Communication 2025, Selasa (24/9). Konferensi yang mengusung tema “Saintifikasi Tradisi Keagamaan dan Kearifan Lokal Islam dalam Pengembangan Dakwah dan Komunikasi” ini menekankan pentingnya mengkaji praktik dakwah tradisional dengan metodologi ilmiah modern.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah, Dr. Ahmad Syarifudin, M.A., menjelaskan bahwa saintifikasi bukanlah konsep baru. “Proses saintifikasi, yaitu menjadikan suatu tradisi dapat dikaji secara ilmiah, telah dipraktikkan para ulama sejak dulu. Misalnya, pengobatan dengan membaca ayat Al-Qur’an. Meski bagi sebagian orang terlihat tidak ilmiah, di dalamnya ada proses transfer energi yang perlu dikaji lebih lanjut,” jelas Syarifudin.
Ia menambahkan, pendekatan ini memperluas cakupan dakwah, yang tidak hanya terbatas pada ceramah, tetapi juga mencakup aspek kehidupan seperti pengobatan dan perdagangan.
Internasionalisasi Berbasis Kearifan Lokal
Wakil Rektor I UIN Raden Fatah, Prof. Dr. H. Munir, S.Ag., M.Ag., menegaskan konferensi ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi universitas. “Internasionalisasi yang kami bangun berbasis pada tradisi dan kearifan lokal Islam Melayu Nusantara. Ini menjadi pembeda dan keunggulan kami dengan semangat ‘from local to global’,” ujar Prof. Munir.
Dalam pidato kuncinya, Prof. Munir mendorong pendekatan kolaboratif antara Islam, sains, dan teknologi. Hal ini, menurutnya, akan mendorong dosen melakukan riset integratif dan mempersiapkan mahasiswa menghadapi realitas dengan perspektif holistik.
Baca Juga : Wagub Sumsel Cik Ujang Lepas Ekspor Perdana Kerupuk dan Gula Aren ke Taiwan
Temuan Mengejutkan: Publikasi Ilmiah Dakwah Sangat Minim
Salah satu highlight konferensi adalah paparan mengejutkan dari Rektor UIN Surakarta, Prof. Dr. H. Toto Suharto, S.Ag., M.Ag., mengenai minimnya publikasi ilmiah bertema dakwah. “Data dari Scopus menunjukkan, dalam kurun 25 tahun (2000-2025), hanya ada 7 artikel dengan tema dakwah. Ini mempertanyakan kemana para akademisi dakwah selama ini,” tegas Prof. Toto.
Temuan ini menyoroti perlunya redesain kurikulum dakwah yang lebih relevan dan mendorong integrasi dakwah dengan disiplin ilmu lain.

Baca Juga : Rp1,3 Triliun Hanya Bermodal Secarik Kertas: Skandal Kredit Fiktif ala Cover Note
Integrasi Tradisi dan Teknologi Digital
Merespons perkembangan zaman, konferensi juga membahas integrasi tradisi dengan teknologi digital. Dr. Ahmad Syarifudin mencontohkan, pengajian yang merupakan tradisi khas dapat diintegrasikan dengan media sosial. “Materi dakwah bisa disampaikan melalui podcast, TikTok, atau platform digital lainnya. Itulah bentuk integrasi ilmu pengetahuan dan tradisi lokal,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Raden Fatah telah menyiapkan roadmap untuk mendampingi dosen mempublikasikan artikel di jurnal bereputasi internasional seperti Scopus. Kurikulum juga akan disusun ulang dengan pendekatan *project-based learning* yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Konferensi yang dihadiri pembicara dari berbagai negara seperti Thailand dan Malaysia ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas akademik dan keilmuan di bidang dakwah dan komunikasi Islam. (MG)












