Palembang, SuaraMetropolitan,-Tata ruang dan ahli fungsi lahan berpengaruh terhadap bencana banjir, untuk itu Wakaf Rawa hadir dalam Diskusi Publik yang digelar oleh Palembang Info dengan maksud “Berpikir Bersama untuk Solusi Banjir Kota Palembang”, di Cafe Agam Pisan Jilid 2 area Bekangdam Sriwijaya Sekanak.
Akademisi (Ahli dalam Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air dan Lahan Rawa), Momon Sodik Imanudin mengatakan bahwa penyebab terjadinya banjir di Kota Palembang karena hilangnya ruang tempat air tinggal.
“Kita memang harus menyediakan ruang untuk air tinggal, aliran air hujan jangan langsung menuju ke sungai, kalo tidak tertampung lagi inilah yang mengakibatkan terjadinya banjir, kata Momon pada Minggu (03/05/2026).
Momon juga mengungkapkan hilangnya ruang tempat air tinggal salah satu faktornya pengaruh dari ahli fungsi lahan untuk pembangunan infrastruktur.
“Dulu 70 persen Palembang masih banyak rawa sekarang kebalik, hanya tinggal 30 persen bahkan rutin berkurang, untuk itu kita carikan solusinya agar mengembalikan ruang yang telah hilang karena adanya pembangunan,” ungkapnya
Lebih lanjut, Momon menyampaikan dalam Diskusi Publik kali ini melahirkan Wakaf Rawa sebagai gerakan pembebasan lahan pembangunan sebagai solusi untuk mengembalikan ruang air di Kota Palembang.
“Nah inilah yang akan saya lounching pada sore ini untuk membuat suatu gerakan namanya Gerakan Wakaf Rawa, gerakan ini muncul karena kita ini sering kali terbentur masalah pembebasan lahan, kita berharap ada relawan di sini bisa membantu menginvestari daerah rawa mana yang masih bisa diamankan untuk kita bebaskan,” ujar Momon.
Di forum yang sama, Founder Forum Masyarakat Berdaya dan Pegiat Agraria, Ki Edi Susilo menjelaskan ketegasan diperlukan untuk mereka yang merusak alam.
“Harus tegas memberikan peringatan kepada mereka yang sudah mengambil ruang air supaya tidak hilang, yang mengeruk rawa, dan membangun bangunan di pinggir jalan, jika satu hektar ruang penampungan air yang hilang maka kita harus menyiapakan juga 1 hektar sehingga seimbang,” jelas Ki Edi.
Terakhir, Ki Edi memberi pesan untuk semua warga Kota Palembang khususnya, senantiasa menjaga sungai yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Kita harus bersahabat dengan air, dengan sungai musi dan sungai-sungai yang ada di Kota Palembang, jangan mendustai musi, karena alam akan membayarnya, ke depannya kita akan digulung oleh musi,” pungkasnya.
Informasi diatas ditulis oleh Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang








