PALEMBANG, SuaraMetropolitan,– Massa mahasiswa yang tergabung dalam sejumlah organisasi kemahasiswaan, di antaranya kelompok Cipayung seperti GMNI, IMM, KAMMI, serta organisasi mahasiswa lainnya, menggelar aksi unjuk rasa di depan Polda Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (13/10/2026).
Dalam aksi tersebut, Mahasiswa mendesak kepolisian mengusut tuntas dugaan pembakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk meminta pertanggungjawaban korporasi yang diduga terlibat hingga ke tingkat pengurus dan pimpinan perusahaan.
Aksi yang berlangsung sejak sekitar pukul 13.00 WIB itu juga menyoroti 12 korporasi yang disebut telah disegel Kementerian Lingkungan Hidup serta 16 korporasi yang disebut sedang dalam proses penyidikan Polda Sumsel.
Mahasiswa mendesak agar perkembangan penanganan perkara terhadap korporasi tersebut disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Mereka juga meminta pemerintah memastikan pemulihan lingkungan di wilayah yang terdampak karhutla.
Massa memberikan tenggat waktu 7 x 24 jam kepada pihak terkait untuk menindaklanjuti tuntutan tersebut. Jika tidak ada tindak lanjut, mahasiswa mengancam akan kembali menggelar aksi.
Namun, di tengah aksi tersebut, kericuhan terjadi ketika massa mahasiswa hendak memulai orasi di pintu kedua Polda Sumsel. Sejumlah wartawan yang tengah menjalankan tugas peliputan mengaku mendapat intimidasi saat berusaha mendokumentasikan kejadian.
Berdasarkan keterangan salah satu Wartawan Mulyadi, saat melakukan peliputan yang berada di lokasi, kericuhan melibatkan mahasiswa dengan Orang Tidak Kenal (OTK) dengan menggunakan Pakaian warna hitam yang sebelumnya membagikan masker di depan pintu Polda Sumsel.

Kericuhan kemudian disebut meluas dari pintu kedua Polda Sumsel hingga kawasan lampu merah. Dalam situasi tersebut, sejumlah wartawan mengaku diminta menghapus rekaman kericuhan. Bahkan, telepon seluler milik Mulyadi disebut hampir dirampas.
“Kami pada saat itu meliput kericuhan, tapi malah kami diintimidasi, disuruh hapus video, HP kami hampir dirampas,” ujar Mulyadi.
Ia mengatakan telah menjelaskan kepada rombongan tersebut bahwa dirinya bersama rekan-rekannya merupakan wartawan yang sedang menjalankan tugas jurnalistik. Namun, menurut pengakuannya, intimidasi tetap terjadi.
“Aku sudah kasih tahu kalau kami itu wartawan. Tapi tetap kami diintimidasi dan dimarah-marahi,” katanya.
Mulyadi menyebut terdapat lebih dari lima orang dalam rombongan berbaju hitam tersebut. Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui identitas maupun organisasi yang menaungi mereka.
Dalam kejadian itu, wartawan lainnya bernama Rahmat disebut turut terdampak. Mulyadi mengatakan dirinya berusaha membantu Rahmat bersama rekannya, Viola, ketika situasi di lokasi semakin memanas.
Menurut Mulyadi, Rahmat sempat dituduh sebagai provokator. Namun, ia membantah tuduhan tersebut dan menyebut Rahmat sedang menjalankan tugas peliputan. Sementara itu, Viola disebut tengah melakukan siaran langsung melalui Facebook.
“Viola lagi live Facebook, lagi bekerja, dan aku pun lagi ngeliput,” ujar Mulyadi.
Mulyadi juga mengatakan pihaknya sempat meminta bantuan kepada anggota intel yang berada di lokasi. Namun, berdasarkan keterangannya, intimidasi terhadap para peliput tetap berlangsung.
Hingga berita ini diterbitkan, identitas rombongan berbaju hitam tersebut serta dugaan intimidasi terhadap wartawan belum terkonfirmasi secara independen. Konfirmasi dari pihak Polda Sumsel dan pihak-pihak terkait lainnya masih diperlukan untuk memperoleh penjelasan mengenai kronologi kericuhan dan dugaan intimidasi terhadap wartawan tersebut.
Informasi diatas ditulis oleh Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang











