Palembang,SuaraMetropolitan – Program pelaksanaan Car Free Day (CFD) di kawasan Jembatan Ampera resmi diluncurkan pada Minggu (14/6/2026) pagi. Program ini perlu mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat agar tujuan menghadirkan ruang publik yang sehat dan nyaman dapat tercapai.
Pakar Transportasi dan Guru Besar Universitas Sriwijaya (Unsri), Prof. Dr. Ir. Erika Buchari, M.Sc, Ph.D., mengatakan penutupan jembatan untuk kegiatan publik bukanlah hal yang asing di berbagai negara. Bahkan, menurutnya, sejumlah kota di luar negeri menerapkan penutupan jembatan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan pelaksanaan CFD di Palembang.
“Di berbagai kota di luar negeri, bukan hanya beberapa jam ditutup, bahkan lama. Itu terjadi di kota Mastrich, di Belgia dan banyak kota lain. Hal ini malah menyenangkan bagi semua orang. Tergantung masyarakat kita, mau tidak dialihkan jalannya. Kalau sepakat ingin CFD beberapa jam saja, ya silahkan,” ujarnya kepada SuaraMetropolitan Minggu (14/6/2026) siang.
Menurut Prof. Erika, masyarakat Palembang juga memiliki alternatif transportasi yang dapat dimanfaatkan selama pelaksanaan CFD berlangsung, salah satunya melalui layanan Light Rail Transit (LRT).
Baca juga: Resmi Diluncurkan, Car Free Day Jadi Langkah Baru Palembang Menuju Kota Sehat dan Ramah Warga
“Kita masih ada LRT untuk menyambung dari tempat parkir kendaraan pribadi. Jadi sekali lagi, hal ini tergantung masyarakat mau bersama-sama memiliki Jembatan Ampera dan menikmati jalan kaki di atasnya atau tidak,” katanya.
Terkait warga yang tetap harus beraktivitas pada Minggu pagi, Prof. Erika menilai akses transportasi alternatif tetap tersedia sehingga mobilitas masyarakat dapat terus berjalan.
“Bagi warga Palembang yang harus bekerja bisa melalui jembatan lain, atau naik LRT. Bagi yang berdagang, beribadah, bisa menggunakan LRT atau jalan kaki dari tempat parkir. Bagi yang memiliki keperluan mendesak seperti mau ke RS AK Gani bisa melalui Jalan Merdeka,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan CFD memerlukan kesepahaman bersama antara pemerintah dan masyarakat agar tidak menimbulkan persoalan akses maupun waktu tempuh.
Baca juga: KORMI Palembang Siapkan Lomba Adu Ketangkasan dan Kekompakan di HUT ke-1343 Kota Palembang
“Yang perlu diperhatikan pemerintah agar pelaksanaan Car Free Day tidak menimbulkan kesulitan akses maupun waktu tempuh yang lebih panjang adalah kesepakatan dan keikhlasan bersama untuk berbagi waktu dan tempat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Erika menyarankan agar Pemerintah Kota Palembang melakukan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan CFD di Jembatan Ampera. Evaluasi tersebut dapat dilakukan melalui survei terhadap pengguna Jembatan Ampera guna mengetahui tingkat penerimaan masyarakat terhadap program tersebut.
“Indikator yang harus dievaluasi oleh Pemerintah Kota Palembang dapat dikumpulkan melalui data survei pengguna Jembatan Ampera, untuk menilai apakah Car Free Day di Jembatan Ampera benar-benar efektif dan diterima masyarakat, termasuk oleh warga yang terdampak pengalihan arus,” pungkasnya.






