Connect with us

Pariwisata

GKR Bendara Membuka Gelaran Produk UMKM DIY

Published

on

Spread the love

 

Yogyakarta (06/12/2020) — GKR Bendara selaku Pembina UMKM di Yogyakarta membuka Gelaran Produk Sibakul ( off line) ,Pameran Virtual dan Rembug Desa ( Angkringan) yang di selenggarakan Dinas Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah Pemerintah Daerah DIY di Ruang Rapat Sekar Jagad Kantor Dinas Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah Jl HOS Cokroaminoto 152 Tegalrejo Yogyakarta,Minggu ( 6/12/20).

GKR Bendara dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelaku UMKM adalah seorang pejuang istimewa yang berjuang di masa Pandemi .

” Pelaku UMKM adalah seorang pejuang istimewa yang berjuang di masa Pandemi,yang tidak lelah berpikir untuk keluar dari masalah karena terdampak usahanya,kita berjuang untuk tidak mudah menyerah” demikian GKR Bendara dalam sambutannya.

Di sampaikan juga oleh GKR Bendara bahwa saat ini adalah saatnya untuk tidak egois,tapi harus bekerjasama dengan semua pihak agar tetap mampu bertahan di masa yang sulit ini.

” Saatnya kita untuk tidak egois,kita harus bekerjasama dengan semua pihak,agar tetap mampu bertahan di masa yang sulit ini ” demikian akhir sambutannya.

Sementara itu Ari Antoni salah seorang tamu undangan dari UMKM yang bergerak di bidang pembuatan Bakpia menaruh harapan besar kepada Pemerintah agar terus memberikan semangat dan bimbingan kepada pelaku UMKM yang terdampak Pandemi.

” Kami berharap Pemerintah melalui Dinas terkait seperti Dinas Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah ini untuk terus menerus melakukan pendampingan dan semangat kepada pelaku UMKM yang terdampak Pandemi agar tetap mampu bertahan dan keluar dari masalah yang terjadi karena Pandemi” harap Ari Antoni yang mempunyai outlet Bakpia Delima di Ruko depan Pasar Beringharjo Yogyakarta ini.

Gelaran produk offline dan virtual serta rangkaian acara yang lain akan di laksanakan di Kantor Dinas Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah dari tanggal 6 Desember hingga 12 Desember 2020.

Pembukaan acara di tandai dengan membunyikan Othok-othok mainan tradisional Bantul bersama- sama di pimpin oleh GKR Bendara.

Acara berlangsung dengan baik dan lancar di hadiri Kepala Dinas Koperasi Dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten/ Kota di DIY, Pelaku UMKM di Yogyakarta dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Kontributor/rep : Gie Rahardjo

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Sultan HB X: Kendaraan Bermotor Warga Jogjakarta Bebas Denda Atminitratif

Published

on

Spread the love

 

Yogjakarta, Suarametropolitan.com – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan keringanan bebas biaya adminitratif untuk kendaraan bermotor bagi warga Jogjakarta.

Bebas biaya tersebut, seperti dalam video unggahan di berbagai media sosial, yang menerangkan bahwa Sultan HB X menjelaskan perihal sebagai berikut.

 

(SupadiTW)

Continue Reading

Bencana

Gugus Tugas Kecamatan Umbulharjo Sosialisasi Adaptasi Kebiasan Baru

Published

on

Spread the love

 

Yogyakarta, (24/10/20), SuaraMetropolitan.com — Di pimpin Langsung Ketua Gugus Kecamatan yang juga Camat Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta Drs Rumpis Trimintarta kembali melakukan Sosialisasi Adaptasi Kebiasan Baru dan Protokol Kesehatan ke para pelaku usaha, Hotel dan Resto di wilayah kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta.

Gita Anjarwati SKM petugas Surveilans Kelurahan ( Surkel) dari Puskesmas Umbulharjo 2 yang turut serta dalam kegiatan menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang di lakukan Gugus Tugas dalam rangka sosialisasi Adaptasi Kebiasan Baru dan Penerapan Protokol Kesehatan .

” Ini merupakan kegiatan rutin yang di lakukan Gugus Tugas dalam rangka sosialisasi Adaptasi Kebiasan Baru dan Penerapan Protokol Kesehatan dengan menyasar pelaku usaha seperti hotel , resto dan kantor di wilayah kecamatan Umbulharjo ” demikian Gita Anjarwati kepada Wartawan.

Di tambahkan oleh Gita Anjarwati Fokus Sosialisasi adalah memastikan penerapan Protokol Kesehatan dengan 4 M yaitu Memakai Masker, Mencuci Tangan Pakai Sabun, Menjaga Jarak dan Menghindari Kerumunan.

” kami memastikan penerapan protokol kesehatan benar- benar di laksanakan di tempat publik dan pelaku usaha seperti Resto, Hotel dan perkantoran , sekaligus kami sosialisasi tentang Adaptasi Kebiasan Baru di tempat kerja juga sosialisasi tentang 4 M ” tambah Gita Anjarwati.

Turut serta dalam kegiatan Sekcam Kecamatan Umbulharjo Endah Dwi Dinyastuti SE MM yang berpesan kepada pelaku usaha agar tetap mentaati Protokol Kesehatan dan patuh kepada himbauan dari Pemerintah.

” kami sampaikan bahwa tempat- tempat usaha yang sudah memulai aktifitas wajib menerapkan protokol kesehatan dan harus patuh kepada himbauan dari Pemerintah ” tutur Endah Dwi Dinyastuti.

Tim Gugus yang terdiri dari berbagai Instansi di harapkan mampu memberikan masukan dan ilmu yang mudah di terapkan oleh pelaku usaha dan masyarakat.

” tim monitoring dan sosialisasi terdiri dari Kecamatan, Puskesmas, Polsek, Koramil , Sat Pol PP dan dari instansi lain , harapannya semoga sosialisasi tepat sasaran dan ilmu yang di berikan mudah di terapkan ” pungkasnya.

Rep/Kontributor: Gie Raharjo

Continue Reading

Budaya

Destinasi Wisata Telaga Jonge, Memiliki Sejarah Asal Usulnya

Published

on

Spread the love

Gunungkidul, (29/09/2020), Suarametropolitan.com, — Telaga yang berada ditengah perkampungan penduduk yakni telaga jonge, tidak pernah surut meskipun dampak kemarau panjang sekalipun. Telaga tersebut diyakini sebagian warga masyarakat menyimpan sejarah asal usulnya.(red)

Kutipan id.m Wikipedia.org
Telaga Jonge merupakan objek wisata telaga yang terdapat di Pedukuhan Jonge, Kalurahan Pancarejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Terletak kurang lebih 7Km arah timur kota Wonosari dan atau 5Km arah barat Kecamatan Semanu. Telaga Jonge yang luasnya hampir 3 hektar dengan dikelilingi hutan buatan sebagai perindang sehingga asri. Telaga Jonge tidak pernah kering sepanjang tahun. Airnya masih dimanfaatkan untuk mandi warga sekitar, jika musim kemarau panjang.

Sebagai petilasan, telaga ini setiap harinya banyak dikunjungi oleh banyak orang, hanya sekadar memohon doa ataupun hanya sekadar menikmati kesegaran telaga. Mitos yang berkembang di masyarakat tentang telaga ini menjadi hal yang perlu diperhatikan, ketika berada ditelaga ini jangan dilarang mengucapkan kata- kata kotor, berciuman dan jangan melakukan hal yang berbau dengan perzinaan. Telaga ini memang dari masyarakat menjadi tempat yang suci dan jauh dari dosa.

Telaga Jonge menyimpan cerita yang panjang untuk ditelusuri. Berawal dari kisah seorang Kyai bernama Kyai Jonge, yang berhasil selamat dari hantaman ombak laut selatan yang kemudian singgah dibeberapa tempat di Gunungkidul sampai akhirnya singgah di Desa Pacarejo dan meninggal di tempat itu yang konon setelah Kyai Jonge meninggal maka terbentulah telaga, yang sampai saat ini bernama telaga Jonge.

Diceritakan juga oleh wiyonggoputih.blogsport.com pada Sabtu, 14 April 2018.

Telaga Jonge Yang Penuh Misteri Dan Sejarah

Tidak seperti telaga-telaga lain yang ada di Kabupaten Gunungkidul yang akan mengering ketika musim kemarau, telaga ini justru tetap memiliki air yang melimpah sepanjang tahun. Telaga Jonge memiliki luas sekitar 3 hektare dengan dikelilingi hutan buatan yang membuat pinggiran telaga ini terlihat teduh dan asri. Telaga Jonge terletak di dusun Kwangen, Pacarejo, Semanu.

Tidak seperti telaga-telaga lain yang ada di Kabupaten Gunungkidul yang akan mengering ketika musim kemarau, telaga ini justru tetap memiliki air yang melimpah sepanjang tahun. Telaga Jonge memiliki luas sekitar 3 hektare dengan dikelilingi hutan buatan yang membuat pinggiran telaga ini terlihat teduh dan asri. Telaga Jonge terletak di dusun Kwangen, Pacarejo, Semanu.

Berjarak sekitar 7 km ke arah timur dari pusat kota Wonosari. Lokasinya berdekatan dengan Gua Kalisuci dan Gua Jomblang yang terletak di desa yang sama. Rute yang harus dilalui sama dengan rute menuju ke Kalisuci. Hanya saja jika Kalisuci di perempatan terakhir belok ke kiri sedangkan Telaga Jonge belok ke kanan. Lokasinya tepat berada di depan SMP N 3 Semanu. Jalan yang dilalui untuk menuju telaga ini pun sudah cukup mudah dan cukup bagus. Di telaga ini terdapat makam Kiai Jonge alias Ki Sidiq Wacono alias Ki Soponyono yang merupakan sesepuh dari Majapahit.

Berkat perjuangan Kiai Jonge, telaga tersebut membawa berkah dan selalu mengayomi warga, termasuk para peziarah yang datang dengan berbagai kepentingan. Terlepas dari itu semua, tradisi ini merupakan kearifan budaya yang masih lestari dan dijunjung tinggi dalam masyarakat.

Di tempat ini juga tersedia lapak pedagang yang menyediakan makanan ringan dan menu makan siang serta untuk mie ayam, bakso, nasi dan sebagainya. Hal ini dapat dikatakan sebagai tempat khusus karena air dari tempat ini atau telaga ini tidak pernah kering hanya berkurang pada saat musim kemarau, mungkin karena beberapa tempat atau wilayah di sekitar tempat ini yang masih terjaga kelestariannya dicirikan oleh pertumbuhan pohon-pohon besar di sekitar danau ini, sehingga cadangan air tanah tidak pernah habis meskipun musim kemarau tiba. Semua orang yang datang ke sini harus menjaga lisan karena tempat ini adalah tempat yang penuh dengan sakral dan mistis. Di tempat ini juga dugunakan oleh penduduk untuk mandi setiap hari, mencuci, atau lainnya.

Kyai Jonge adalah salah satu tokoh dalam sejarah Gunungkidul. Dia merupakan pepunden dari Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Makam Kiai Jonge berada di kompleks Telaga Jonge yang berada di dusun Kwangen, Pacarejo, Semanu. Berjarak sekitar 7 km ke arah timur dari pusat kota Wonosari. Lokasinya berdekatan dengan Gua Kalisuci dan Gua Jomblang yang terletak di desa yang sama. Tidak seperti telaga-telaga lain yang ada di Kabupaten Gunungkidul yang akan mengering ketika musim kemarau, telaga ini justru tetap memiliki air yang melimpah sepanjang tahun. Telaga Jonge memiliki luas sekitar 3 hektar dengan dikelilingi hutan buatan yang membuat pinggiran telaga ini terlihat teduh dan asri.

Kiai Jonge merupakan salah satu penasehat spiritual dari Ki Ageng Giring atau Ki Ageng Wonokusumo. Beliau adalah tokoh dari Kerajaan Majapahit yang meninggalkan kerajaan, namun akhirnya masuk Islam. Makamnya terdapat di tengah-tengah Telaga Jonge. Pusara dibangun di sebelah timur telaga dengan bentuk kotak, tidak persegi panjang sebagaimana lazimnya sebuah makam.

Warga harus selalu menjaga kebersihan dan kemanfaatan telaga Jonge, untuk kesejahteraan bersama. Telaga ini sangat bermanfaat bagi warga sekitar, biasanya warga sekitar memanfaatkan telaga ini untuk mencuci dan mandi. Tidak jarang pula muda-mudi datang ke tempat ini karena memang suasana yang teduh dan asri di sekitar telaga. Ada juga beberapa warung dan angkringan dari warga sekitar. Di sekitar telaga ini juga telah dibuatkan beberapa tempat duduk dari batang kayu untuk duduk menikmati keindahan Telaga Jonge.

Telaga ini dibersihkan dan dilestarikan melalui tradisi masyarakat. Bahkan dalam tradisi ini, diikuti oleh beberapa orang dari luar DIY. Mereka secara sengaja mendatangi semacam kuburan atau petilasan Kiai Jonge yang terletak di pinggir telaga Jonge wilayah Dusun Kwangen Desa Pacarejo Kecamatan Semanu. Selain itu masyarakat adat menggelar pentas seni di sekitar telaga. Ratusan orang mengelilingi telaga yang berdiri di atas tanah Sultan Ground seluas satu hektar tersebut.

Kesenian jathilan, wayangan, kethoprak dan beberapa tokoh desa setempat ikut mengiringi kirab tersebut. Kearifan lokal tersebut terus dipelihara oleh warga setempat. Dalam tradisi tersebut, menurutnya merupakan bentuk penghormatan pada sosok Kiai Jonge yang dipercaya sebagai penduduk yang paling awal menempati wilayah sekitar telaga tersebut. Mereka juga mengucap syukur lantaran airnya masih bisa terus digunakan bagi kemakmuran masyarakat.

Juru kunci telaga Jonge, Noto Karjo menjelaskan bahwa empat dusun di sekitar jonge seperti Dusun Kwangen lor, Kwangen Kidul, Jelok, Wilayu secara bergotong royong menjaga kebersihan telaga ini. Ia menunjuk tempat persemayaman Kiai Jonge yang merupakan satu-satunya makam yang berada di bawah pohon beringin yang cukup besar, di pinggir telaga yang airnya sepanjang tahun tidak pernah kering.

Bagi warga setempat, Kiai Jonge bukan hanya dipercaya bersemayam di kuburan itu, tetapi juga menunggu telaga agar tetap lestari dan air tidak kering, sehingga bermanfaat bagi masyarakat yang setiap tahunnnya menjadi korban kekeringan. Termasuk mereka tidak berani untuk merusak alam di sekitar Telaga Jonge.

Pesan selanjutnya, warga di sekitar telaga dilarang untuk saling menikah, larangan ini sangat dipatuhi oleh 5 dusun yang ada di sekitar Telaga Jonge itu sendiri. Tradisi tidak saling menikahkan anak di antara lima dusun diawali adanya perseteruan tentang penguburan jasad Kiai Jonge. Dulu kelima dusun tersebut sempat terbagi dalam dua desa, yaitu Desa Menthel dan Desa Kwangen. Kiai Jonge yang berasal dari Kwangen memperistri seorang gadis warga Desa Menthel. Masing-masing warga dari dua desa tersebut menginginkan agar penguburan jenazah tersebut berlokasi di wilayah desa mereka. Karena tak ada kesepahaman, tiap warga membangun kubur bagi Kiai Jonge baik di Desa Menthel maupun Kwangen.

Hingga kini ada dua kuburan Kiai Jonge, yaitu di tengah ladang penduduk di Dusun Mojosari serta di tengah Telaga Jonge. Awalnya pantangan ini hanya berlaku selama sembilan generasi di lima dusun tersebut, namun hingga saat ini tetap tidak ada warga yang berani melanggarnya.

SM~Supadiyono

 

Continue Reading

Berita Terpopuler