Berita Daerah

Jongot, Warisan Leluhur yang Mulai Dikenalkan Kembali Lewat Film

×

Jongot, Warisan Leluhur yang Mulai Dikenalkan Kembali Lewat Film

Sebarkan artikel ini
Pemaparan film dokumenter Jongot di Gedung Pusat Perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang, Senin (28/9/2026). (Foto: Excel Ramadhan).

Palembang,SuaraMetropolitan – Jongot merupakan salah satu warisan leluhur masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang tidak hanya memiliki nilai lingkungan tetapi juga menyimpan cerita keluarga dan kehidupan masyarakat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Cerita tentang Jongot kemudian dibawa ke Bioskop Mini UIN Raden Fatah Palembang melalui pemutaran film dokumenter “Jongot: Warisan Leluhur untuk Alam dan Manusia”, Selasa (29/9/2026).

Setelah film diputar, mahasiswa, akademisi, pemerintah, dan pegiat kebudayaan ikut membahas bagaimana Jonggot dapat terus dipertahankan.

Dosen Ilmu Politik UIN Raden Fatah, Dr. Yono Rofiq, mengatakan Jongot memiliki hubungan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Jongot itu menarik karena ada lingkungan, sejarah, dan kehidupan masyarakat di dalamnya,” ujarnya.

Menurut Yono, Jongot biasanya dikelola oleh keluarga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pepohonan besar yang ada di dalamnya juga membantu menyimpan air sehingga kawasan tersebut masih bisa terasa basah ketika musim kemarau.

“Pohon-pohon besar itu membantu menahan air. Saat musim kemarau, Jongot masih bisa memiliki air,” ujarnya.

Namun, mempertahankan Jongot tidak selalu mudah. Kebutuhan ekonomi membuat sebagian masyarakat mengubah fungsi lahannya menjadi perkebunan karet maupun kelapa sawit.

Penggagas film, Nopri Ismi, M.Ling., mengatakan proses pembuatan dokumenter tersebut dimulai sekitar Oktober 2025. Ia bersama tim mendatangi dan merekam kehidupan masyarakat serta kondisi Jongot.

“Sebagian Jongot masih ada, tetapi ada juga yang sudah berubah menjadi lahan perkebunan,” ujarnya.

Meski begitu, masih ada keluarga yang berusaha mempertahankan Jongot. Beberapa di antaranya kembali menanam tanaman lokal agar kawasan tersebut tetap memiliki ciri seperti yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu.

Bagi mereka, Jongot bukan hanya tentang apa yang bisa dihasilkan dari tanah. Ada kenangan dan hubungan keluarga yang membuat tempat tersebut mempunyai arti tersendiri.

“Bagi sebagian keluarga, Jongot bukan hanya soal lahan, tetapi juga ada hubungan emosional dengan tempat tersebut,” ujar Nopri.

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan, Wanda Lesmana, mengatakan Jongot menunjukkan cara masyarakat terdahulu beradaptasi dengan lingkungan.

“Jongot merupakan salah satu bentuk pengetahuan budaya masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan dan memikirkan generasi berikutnya,” ujarnya.

Dalam diskusi, mahasiswa juga diajak melihat bagaimana generasi muda dapat ikut menjaga cerita tentang Jongot. Media sosial, fotografi, film, dan karya kreatif dapat digunakan untuk mengenalkan Jongot kepada orang-orang yang belum pernah mengetahuinya.

Bagi masyarakat PALI, menjaga Jongot berarti menjaga sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan mereka. Sementara bagi generasi muda, mengenal Jongot menjadi kesempatan untuk mengetahui bahwa warisan leluhur tidak selalu berbentuk benda, tetapi juga bisa berupa lingkungan, pengetahuan, dan cerita yang terus diwariskan.

Dari sebuah kawasan di PALI, cerita tentang Jongot kini sampai ke ruang-ruang diskusi kampus. Harapannya, cerita tersebut tidak berhenti setelah film selesai diputar, tetapi terus diceritakan dan dijaga oleh generasi berikutnya.

Informasi diatas ditulis oleh Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang. 

Tinggalkan Balasan