Palembang,SuaraMetropolitan – Unggahan video Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang sedang bermain golf sambil menuliskan refleksi diri di media sosial dengan bahasa inggris dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia, menuai beragam respons. Dalam narasi motivasinya, sang bupati menekankan bahwa ia tidak sedang bersaing dengan siapa pun, melainkan hanya dengan dirinya sendiri.
Namun, gaya kontemplatif itu justru memancing kritik dari aktivis anti korupsi, Feri Kurniawan. Ia menilai, alih-alih menyentuh, unggahan tersebut justru terasa menjauh dari realitas yang tengah dihadapi masyarakat.
“Bagus juga kalau Pak Bupati ingin jadi versi terbaik dari dirinya sendiri dan tak bersaing dengan siapapun. Sayangnya, rakyat di PALI saat ini sedang sibuk bersaing dengan harga sembako, jalan rusak, dan minimnya layanan publik. Dan rakyat juga tidak sedang duduk di lapangan golf sambil berpikir soal pengembangan diri, tapi mereka sedang berjuang hidup,” kata Feri kepada SuaraMetropolitan , Selasa (5/8/2025).
Baca juga: Presiden Minta Hemat, Kabupaten PALI Belanja Mewah? K MAKI Warning Potensi Korupsi
Feri menilai narasi semacam itu menjadi paradoks di tengah berbagai persoalan nyata yang belum terselesaikan di PALI. Mulai dari infrastruktur dasar, pelayanan kesehatan yang belum merata, hingga masalah ekonomi yang masih menghimpit warga.
“Ini bukan soal ‘aku versus aku’, ini tentang bupati versus tanggung jawabnya. Karena ketika pemimpin terlalu fokus pada dirinya sendiri, rakyat bisa-bisa ditinggalkan dalam kesendirian menghadapi keadaan,” ujarnya.
Feri juga menanggapi pernyataan bupati yang mengaku tahu ke mana arah hidupnya. Ia menyindir gaya kepemimpinan yang menurutnya lebih sibuk tampil di media sosial ketimbang hadir di tengah rakyat.
Baca juga: Jalan Umum Dikuasai Truk Tambang, AP3: Rakyat PALI Dipaksa Mengalah di Negeri Sendiri
“Kalau tahu ke mana akan pergi, semoga bukan ke acara seremonial terus-menerus dan lapangan golf berikutnya. Karena rakyat butuh kehadiran, bukan hanya unggahan,” tukasnya.
Menurutnya, pemimpin semestinya membuktikan kualitas lewat kerja nyata, bukan narasi pribadi yang penuh metafora.
“Jika seorang bupati bertanding melawan dirinya sendiri, lalu siapa lawan dari rakyat? Ketimpangan? Korupsi? janji yang tak pernah ditepati? atau uang rakyat untuk beli mobil dinas mewah seperti LC” tambah Feri.






