Palembang,SuaraMetropolitan – Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Dr. Drs. H. Edward Candra, M.H., mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Desk Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026 yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Republik Indonesia secara virtual dari Command Center Kantor Gubernur Sumsel, Kamis (2/4/2026).
Dalam forum tersebut, pemerintah pusat kembali mengaktifkan desk koordinasi penanganan Karhutla guna memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi musim kemarau tahun ini. Pembahasan utama menitikberatkan pada kesiapan daerah rawan, termasuk Sumsel dan Kalimantan Barat.
Edward Candra mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Sumsel telah menjadwalkan apel siaga Karhutla pada 22 April 2026 yang akan berlangsung di Griya Agung, Palembang. Apel ini direncanakan dihadiri langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan sebagai pembina apel.
“Kami berkenan mengundang Bapak Menko selaku pembina apel untuk hadir dalam apel siaga Karhutla,” ujarnya.
Baca juga: Antrean Solar Berujung Maut, Sopir Truk Tewas Ditusuk di SPBU Punti Kayu Palembang
Ia menambahkan, dalam apel kesiapsiagaan tersebut akan dikerahkan sekitar 1.500 hingga 2.000 personel gabungan, yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Satpol PP, BPBD, Manggala Agni, pemadam kebakaran, serta elemen masyarakat.
Lebih lanjut, Edward menegaskan bahwa Pemprov Sumsel saat ini tengah memproses penetapan status siaga darurat Karhutla sebagai langkah antisipasi sejak dini. Penetapan tersebut ditargetkan selesai sebelum pelaksanaan apel siaga.
“Kami laporkan, keputusan siaga darurat bulan ini sedang kami proses dan akan segera disampaikan kepada Gubernur. Sebelum 23 April, status siaga akan ditetapkan,” tegasnya.
Sementara itu, berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di wilayah Sumsel diperkirakan mulai berlangsung pada Mei hingga Juni 2026 dan berpotensi lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut tentu meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan, sehingga diperlukan kesiapan maksimal.
Baca juga: Peretas Dibekuk, Dana BOS SMA di Prabumulih Nyaris Rp1 Miliar Raib
Sebagai salah satu daerah yang rawan Karhutla, Sumsel menjadikan kondisi ini sebagai dasar dalam penetapan status siaga darurat. Beberapa wilayah yang menjadi prioritas penanganan antara lain Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin (Muba), Muara Enim, Musi Rawas (Mura), Musi Rawas Utara (Muratara), Ogan Komering Ulu (OKU), serta OKU Timur.
Dari aspek geografis, luas wilayah daratan Sumsel mencapai sekitar 8,37 juta hektare, dengan komposisi kawasan hutan sekitar 3,47 juta hektare, perkebunan 1,8 juta hektare, pertanian 752 ribu hektare, serta lahan gambut lebih dari 1,27 juta hektare yang menjadi salah satu faktor tingginya potensi Karhutla.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, berbagai langkah strategis telah disiapkan, di antaranya peningkatan deteksi dini dan respons cepat, patroli terpadu, pemantauan hotspot secara rutin, serta pelibatan aktif masyarakat dalam upaya pencegahan, khususnya di wilayah rawan gambut.
Selain itu, pemerintah juga melakukan penyiapan personel dan sarana prasarana pemadaman, pembentukan posko siaga, serta memperkuat koordinasi lintas sektor agar penanganan Karhutla dapat berjalan secara optimal.







