Berita DaerahWisata

Tegas! DPR RI Desak Evaluasi Total TWA Punti Kayu, Tak Boleh Ada Penebangan Pohon

×

Tegas! DPR RI Desak Evaluasi Total TWA Punti Kayu, Tak Boleh Ada Penebangan Pohon

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo saat pendalaman pada pertemuan Kunsfik Komisi IV di BKSDA Sumsel, Palembang, Sumsel, Jumat (18/07/2025).

Palembang,SuaraMetropolitan Komisi IV DPR RI mendesak evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu Palembang. Anggota Komisi IV, Firman Soebagyo, menilai pengelolaan yang berjalan saat ini belum memberikan dampak signifikan, sehingga perlu dipertimbangkan untuk dihentikan dan dialihkan kepada pihak yang lebih profesional.

“Kalau memang tidak mampu harus di-cut off. Dan kemudian dialihkan kepada siapa yang siap untuk mengelola secara profesional. Komisi IV akan memantau rencana kerjanya seperti apa ke depan,” ujar Firman usai pertemuan Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Palembang, Jumat (18/7/2025).

Firman menegaskan bahwa pengalihan pengelolaan tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus ada kejelasan mengenai mitra kerja, baik pemerintah daerah maupun swasta, termasuk latar belakang dan rekam jejaknya. Ia mendorong agar disusun rencana strategis jangka panjang selama 30 tahun ke depan dengan fokus utama pada pelestarian kawasan.

“Kalau diberikan kepada Pemprov, Pemprov bekerja sama dengan siapa. Dan kalau diberikan ke swasta, swastanya siapa, background-nya harus jelas. Mereka harus bikin satu konsep pengelolaan ke depan, dalam kurun waktu 30 tahun itu renstra-nya seperti apa,” tegasnya.

Baca juga: Diskon BPHTB Pasar Cinde, K MAKI: Pernyataan Aspidsus Janggal, Perwali Bukan Buatan Tersangka!

Dalam hal konservasi, Firman memberikan peringatan keras agar tidak ada satu pun pohon yang ditebang di kawasan tersebut.

“Pelestarian kawasan hutan itu yang paling penting. Tidak boleh ada satu pun kayu yang dipotong,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia mendorong pengembangan TWA Punti Kayu dengan pendekatan wisata edukatif yang tetap mengedepankan pelestarian lingkungan. Ia mencontohkan pengelolaan hutan kota di Jerman dan Taman Nasional Yosemite di Amerika Serikat sebagai model yang bisa ditiru.

“Di Jerman, hutan kota itu dimanfaatkan masyarakat sekitar, misalnya untuk budidaya jamur atau tanaman. Ini menumbuhkan sense of belonging. Sementara di California, Yosemite menyumbang jutaan dolar bagi negara dari wisata alam yang tetap dilestarikan,” jelasnya.

Baca juga: Buka Rapimnas Karang Taruna 2025, Cik Ujang: Pemuda Harus Gesit dan Solutif

Firman juga menyoroti potensi besar TWA Punti Kayu sebagai kawasan edukasi dan rekreasi. Kegiatan pramuka, promosi kuliner lokal seperti pempek dan ikan baung, serta kemudahan akses menjadi keunggulan yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan.

“Ini menarik sekali. Kegiatan pramuka, hingga kuliner lokal seperti pempek, ikan baung, bisa menjadi daya tarik. Ini luar biasa, apalagi akses jalan sudah ada, dekat dengan jalur kereta dan pinggir jalan raya. Sangat langka,” katanya.

Sebagai penutup, Firman berharap pengelolaan baru nantinya bisa memberikan manfaat holistik — menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendatangkan pemasukan bagi negara dan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Hutan harus lestari, negara dapat pemasukan, pengelola untung, dan masyarakat bisa menikmati udara segar di taman wisata alam di tengah kota. Itulah yang kita harapkan,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

error: Maaf ya, kalau beritanya bagus di share saja.