Palembang, SuaraMetropolitan,– Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menggelar International Seminar on Da’wah and Communication bekerja sama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di Gedung Rektorat Kampus A Jalan Sudirman, Palembang, Jumat (08/05/2026).
Tujuan seminar ini merupakan salah satu bentuk kerja sama dalam mengembangkan bidang dakwah dan komunikasi. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Raden Fatah Palembang, Achmad Syarifuddin, menyampaikan bahwa seminar ini mengangkat tema dakwah serantau karena Indonesia dan Malaysia memiliki kesamaan budaya maupun karakter masyarakatnya. Oleh karena itu, kedua negara saling bertukar gagasan dan memiliki tujuan yang sama dalam mengembangkan dakwah dan komunikasi di zaman modern ini.
“Dakwah ini memerlukan inovasi dan kreativitas karena metode konvensional mulai berkurang diminati oleh generasi muda maupun masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kerja sama antara UIN Raden Fatah Palembang dan Universiti Kebangsaan Malaysia tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seminar saja, tetapi juga melalui berbagai kegiatan seperti kuliah tamu, kerja sama akademik, serta pertukaran mahasiswa.
“Beberapa mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia mengikuti perkuliahan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), seperti kelas jurnalistik, public speaking, dan lainnya. Kedua kampus ini juga memiliki rencana ke depan untuk memperkuat kerja sama melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) serta berbagai program akademik lainnya,” jelas Achmad Syarifuddin.
Selain membahas dakwah di era teknologi digital, seminar tersebut juga mengangkat tema ekoteologi Islam atau kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dalam perspektif keagamaan. Ia menilai bahwa masyarakat masih kurang memiliki kesadaran terhadap kebersihan lingkungan di sekitarnya.
“Menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tugas pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama. Dalam Islam, menjaga kebersihan juga merupakan bagian dari amal ibadah,” ucapnya.
Di tempat yang sama, dalam wawancaranya Kahzri menegaskan bahwa perkembangan AI tidak dapat dipisahkan dari Revolusi Industri 4.0 yang membawa perubahan besar.
“Perkembangan AI berkaitan erat dengan Revolusi Industri 4.0. Dalam dunia pendidikan, perubahan teknologi selalu terjadi dan AI menjadi salah satu bagian penting di dalamnya, termasuk juga dalam dunia dakwah. AI ini ibarat hujan, kita tidak bisa menolaknya, tetapi harus memiliki payung untuk menyaring penggunaannya agar bisa mendapatkan manfaat tanpa terkena dampak buruk teknologi tersebut,” tegasnya.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami dan mempelajari AI agar mampu mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat. Meskipun demikian, penggunaan AI tetap harus dilakukan secara bijak serta disertai kemampuan berpikir kritis agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan tidak menimbulkan dampak negatif.
“Saat ini banyak orang memanfaatkan AI untuk menyelesaikan tugas secara cepat, namun belum tentu isi tugas tersebut benar. Jika kondisi ini terus berlangsung dan masyarakat terlalu bergantung pada AI, hal itu dapat mengurangi kemampuan berpikir serta meningkatkan risiko plagiarisme,” himbaunya.
Ia menambahkan bahwa di negaranya, Malaysia, Universiti Kebangsaan Malaysia sudah menerapkan mata kuliah yang berkaitan dengan penggunaan AI, meskipun metode pembelajaran konvensional tetap dipertahankan.
“Di universitas kami sudah ada mata kuliah yang berkaitan dengan AI. Namun, metode pembelajaran tradisional tetap digunakan, seperti menulis tangan agar mahasiswa tetap membaca dan memahami materi,” tambahnya.
Informasi diatas ditulis oleh Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang









