Opini

Ketika Kampus Gagal Mendidik Hati: Urgensi Pendekatan Tasawuf Psikoterapi dalam Memulihkan Etika Akademik

×

Ketika Kampus Gagal Mendidik Hati: Urgensi Pendekatan Tasawuf Psikoterapi dalam Memulihkan Etika Akademik

Sebarkan artikel ini
Dr. Ach. Shodiqil Hafil, M.Fil.I.

Ditulis oleh : Dr. Ach. Shodiqil Hafil, M.Fil.I.

Palembang, SuaraMetropolitan,- Pekan ini, ruang publik dikejutkan oleh dua peristiwa yang terjadi di lingkungan kampus ternama di Indonesia. Peristiwa pertama adalah dugaan pelecehan seksual yang melibatkan sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia melalui grup percakapan yang berisi pembicaraan bernada vulgar dan merendahkan terhadap mahasiswi serta dosen. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Peristiwa kedua berasal dari Bandung, ketika sebuah video lama kegiatan orkes mahasiswa Institut Teknologi Bandung kembali viral. Dalam video tersebut, mereka menyanyikan lagu yang dinilai mengandung unsur vulgar dan objektifikasi terhadap perempuan, hingga memicu permintaan maaf dari pihak organisasi. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Kedua peristiwa ini menunjukkan adanya persoalan etika di lingkungan pendidikan tinggi, yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter dan moral. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Ketika Kecerdasan Kehilangan Mata Hati

Apa yang sebenarnya sedang kita saksikan di ruang-ruang akademik hari ini? Mengapa institusi yang selama ini dipuja sebagai pusat rasionalitas dan pembentukan etika justru kembali dihadapkan pada kasus-kasus yang mencerminkan krisis moral dan kekerasan simbolik?

Dua peristiwa yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi ternama memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai “kasus individual”. Di dalamnya terdapat pola sosial yang lebih dalam, di mana relasi kuasa, budaya pergaulan, dan privilese kerap bekerja secara tersembunyi namun efektif membentuk perilaku. Kekerasan yang muncul tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga simbolik—terlihat dari cara pandang yang merendahkan dan normalisasi ujaran yang tidak etis di ruang digital maupun kultural kampus. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Dalam perspektif ini, kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial yang melingkupinya. Budaya patriarki dan relasi kuasa yang timpang sering kali menciptakan ruang aman bagi pelaku, sementara korban berada dalam posisi rentan dan tidak selalu memperoleh perlindungan yang layak. Pada titik ini, kampus tidak lagi netral, melainkan ikut terlibat dalam produksi atau reproduksi ketimpangan tersebut. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Di sisi lain, situasi ini juga memperlihatkan krisis atensi moral dalam masyarakat digital saat ini. Kita cenderung cepat bereaksi terhadap peristiwa viral, namun lambat dalam membangun kesadaran yang berkelanjutan terhadap akar masalah. Dalam psikologi modern, hal ini sering dikaitkan dengan lemahnya sustained attention—kemampuan mempertahankan fokus pada nilai dan tanggung jawab jangka panjang.

Dalam tradisi Islam, kondisi ini dapat dibaca melalui konsep muraqabah, yakni kesadaran spiritual bahwa setiap tindakan manusia selalu berada dalam pengawasan Tuhan. Konsep ini tidak hanya berfungsi sebagai kontrol diri, tetapi juga sebagai fondasi etika yang bekerja dari dalam, bukan sekadar dari pengawasan eksternal. Dengan demikian, krisis yang terjadi di ruang akademik hari ini bukan hanya soal pengetahuan yang tinggi, tetapi juga tentang hilangnya kesadaran batin yang menuntun perilaku.

Panggilan Prodi Tasawuf dan Psikoterapi: Menyembuhkan dari Akar

Di tengah krisis moral, kegelisahan eksistensial, dan meningkatnya problem kesehatan mental generasi muda, Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi tampak semakin menemukan relevansinya. Meski sebagian orang masih memandangnya sebagai bidang yang kurang “strategis”, sesungguhnya prodi ini hadir sebagai respons atas kebutuhan zaman yang tidak bisa dijawab hanya dengan pendekatan rasional-psikologis semata. Ia menawarkan integrasi antara tasawuf dan psikoterapi modern sebagai pendekatan penyembuhan yang lebih holistik, tidak hanya meredakan gejala, tetapi juga mencoba menyentuh akar spiritual manusia. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Dalam kerangka tersebut, lulusan program studi ini diharapkan mampu mengambil peran sebagai asisten psikoterapis sufistik, praktisi sufi healing, maupun konselor spiritual yang menggabungkan pendekatan psikologis dan spiritual dalam pelayanan kesehatan mental masyarakat. Dengan demikian, tasawuf dan psikoterapi tidak hanya menjadi kajian akademik, tetapi juga ruang praksis yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat modern. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Dalam pengembangannya, Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri menjadi salah satu kampus yang menunjukkan peran penting. Melalui penyelenggaraan Konferensi Nasional IX Konsorsium Tasawuf dan Psikoterapi Indonesia (KOTATERAPI) pada 29–31 Oktober 2025, kampus ini menjadi ruang temu akademisi dari berbagai perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia. Forum ini sekaligus menegaskan adanya keseriusan kolektif dalam mengembangkan keilmuan tasawuf dan psikoterapi di level nasional. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Konferensi tersebut memperlihatkan bahwa integrasi antara spiritualitas dan ilmu kesehatan mental mulai diposisikan sebagai pendekatan penting untuk menjawab kompleksitas problem mental-spiritual di era modern. Dalam hal ini, UIN Syekh Wasil Kediri tidak hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga bagian dari aktor yang mendorong arah pengembangan paradigma keilmuan yang lebih integratif. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Menata Ulang Masa Depan Pendidikan Tinggi

Pada akhirnya, berbagai peristiwa yang mencuat di lingkungan perguruan tinggi elite hari ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai kasus yang berdiri sendiri, tetapi sebagai cermin yang memantulkan persoalan yang lebih mendasar: rapuhnya integritas dalam dunia akademik. Kampus, yang idealnya menjadi ruang pembentukan manusia berilmu sekaligus beretika, perlahan terancam bergeser menjadi sekadar institusi pencetak gelar dan orientasi prestasi akademik semata. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Dalam situasi seperti ini, pendidikan tinggi tampaknya perlu ditata ulang arah dan orientasinya. Tidak cukup hanya melahirkan sarjana yang menguasai teori-teori psikologi modern seperti Sigmund Freud, atau yang mampu menguraikan pemikiran klasik Imam Al-Ghazali secara tekstual, tetapi masih berjalan sendiri-sendiri tanpa dialog yang utuh. Yang dibutuhkan justru adalah generasi yang mampu menjembatani keduanya, menggabungkan ketajaman analisis ilmiah dengan kedalaman spiritualitas, sehingga ilmu tidak hanya berhenti pada tataran pengetahuan, tetapi juga menjadi jalan pembentukan kepribadian. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Dalam konteks itu, Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi dapat dipandang sebagai salah satu ikhtiar akademik yang menawarkan pendekatan integratif tersebut. Prodi ini tidak hanya berbicara tentang gelar akademik, tetapi juga menekankan pembentukan kesadaran batin melalui konsep muraqabah, yakni kesadaran spiritual yang berfungsi sebagai kontrol moral internal dalam perilaku manusia.

Kehadiran pendekatan seperti ini seolah menjadi jawaban atas kegelisahan publik terhadap krisis moral di ruang pendidikan tinggi. Di tengah berbagai ironi yang terjadi, gagasan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal tetapi juga menumbuhkan kejernihan hati menjadi semakin relevan untuk diperbincangkan kembali. Peristiwa diambil dari media yang sudah tersebar.

Dengan demikian, masa depan pendidikan tinggi tidak cukup hanya dibangun di atas kecerdasan intelektual, tetapi juga harus ditopang oleh kekuatan moral dan spiritual, agar kampus benar-benar menjadi ruang lahirnya manusia yang utuh, cerdas sekaligus berintegritas.

Tinggalkan Balasan

error: Maaf ya, kalau beritanya bagus di share saja.