Palembang, SuaraMetropolitan,– Membangun keterikatan antara perusahaan dan pegawai tidak selalu membutuhkan forum formal. Terkadang, percakapan sederhana dalam suasana yang lebih cair justru membuka ruang komunikasi yang lebih dekat. Semangat tersebut dihadirkan PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Keramasan melalui Diskusi dan Coffee Morning (SICOMO) yang digelar di Aula UBP Keramasan, Selasa (27/10/2026).
Diikuti oleh seluruh pegawai UBP Keramasan, SICOMO menjadi ruang komunikasi dua arah antara manajemen dan pegawai. Kegiatan tidak sekadar diisi dengan arahan manajemen, tetapi memberikan kesempatan kepada pegawai untuk menyampaikan pandangan, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan berbagai isu yang berkembang di lingkungan perusahaan.
Salah satu agenda utama dalam SICOMO adalah Heart to Heart with Management, yang dikemas dalam suasana diskusi hangat dan terbuka. Forum ini menjadi wadah bagi pegawai untuk berinteraksi langsung dengan jajaran manajemen sekaligus membangun pemahaman bersama terhadap berbagai dinamika yang dihadapi perusahaan.
Berbagai current issue, baik yang berkaitan dengan kondisi perusahaan maupun perkembangan global, turut menjadi bahan diskusi. Pendekatan tersebut mendorong pegawai untuk tidak hanya memahami pekerjaan dari perspektif unit masing-masing, tetapi juga melihat bagaimana perubahan dan tantangan eksternal dapat memengaruhi arah serta kinerja perusahaan.
Manager PLN Indonesia Power UBP Keramasan, Firman Ramdan, menyampaikan bahwa SICOMO menjadi momentum penting untuk mempererat engagement antara manajemen dan seluruh pegawai.

“SICOMO ini tentunya menjadi momentum untuk mempererat engagement. Kami ingin membangun komunikasi yang lebih dekat, terbuka, dan dua arah antara manajemen dengan seluruh pegawai. Dengan komunikasi yang baik, kita dapat menyamakan pemahaman, mendengar aspirasi, sekaligus bersama-sama mencari solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi,” ujar Firman.
Menurutnya, engagement bukan hanya tentang seberapa dekat pegawai dengan perusahaan, tetapi juga bagaimana setiap insan merasa menjadi bagian penting dari perjalanan dan pencapaian perusahaan. Karena itu, ruang komunikasi seperti SICOMO perlu terus dibangun agar tercipta lingkungan kerja yang terbuka, kolaboratif, dan saling mendukung.
“Setiap pegawai memiliki peran dalam kemajuan perusahaan. Karena itu, kami ingin setiap suara, ide, dan perspektif dapat menjadi bagian dari proses perbaikan. Ketika komunikasi berjalan dengan baik, engagement akan tumbuh dan pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap kinerja,” tambah Firman.
SICOMO kali ini juga dikemas lebih interaktif melalui kegiatan Ranking 1 HLN UBP Keramasan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81, sekaligus menjadi sarana untuk merefresh kembali pengetahuan pegawai mengenai sejarah Hari Listrik Nasional serta berbagai pengetahuan umum.
Dikemas dalam suasana kompetitif namun tetap penuh keakraban, Ranking 1 mendorong pegawai untuk menguji pengetahuan sekaligus membangun semangat kebersamaan. Aktivitas tersebut menjadi pelengkap diskusi SICOMO agar kegiatan engagement tidak hanya berlangsung dalam format komunikasi satu arah, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang menyenangkan dan melibatkan seluruh peserta.
Melalui perpaduan antara Heart to Heart with Management, diskusi current issue, dan Ranking 1 HLN, SICOMO UBP Keramasan menjadi ruang yang menghubungkan komunikasi, pembelajaran, dan kebersamaan dalam satu kegiatan.
Lebih dari sekadar agenda coffee morning, SICOMO diharapkan menjadi bagian dari budaya komunikasi di UBP Keramasan—tempat manajemen dan pegawai dapat saling mendengar, memahami, serta bergerak bersama menghadapi perubahan.
Semangat tersebut menjadi penting di tengah dinamika industri ketenagalistrikan yang terus berkembang. Dengan engagement yang kuat, komunikasi yang terbuka, dan budaya belajar yang konsisten, insan UBP Keramasan diharapkan mampu terus memberikan kontribusi terbaik dalam menjaga kinerja dan keandalan pembangkit. SICOMO bukan sekadar ruang untuk berbicara, tetapi ruang untuk saling mendengar, memahami, dan tumbuh bersama.(*)











