Palembang,SuaraMetropolitan – Pengamat Transportasi Prof Dr Ir Erika Buchari MSc komentari terkait pemerintah kota Palembang melalui Dinas Perhubungan Kota Palembang melaunching Kawasan Tertib Lalulintas (KTL) di jalan POM IX, kemarin 28/05.
Menurut Prof Erika Program itu bukan hanya judul tapi butuh monitoring proses, indikator sebagai pengukur keberhasilan, analisis dan evaluasi serta strategi pencapaian target.
“Program saja tidak cukup. Diperlukan Monitoring, Indikator, Evaluasi dan Strategi pencapaian Target,”kata Prof Erika kepada wartawan SuaraMetropolitan, Kamis (29/05/2025).
19 tahun yang lalu, kata Prof Erika, sudah pernah dilombakan kawasan KTL dan dimenangkan oleh kabupaten Muba dan Palembang juara 2.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Tertib Lalu Lintas, Pemkot Palembang Launching KTL di Jalan POM IX
“Pastinya sebelum itu sudah dibuat persiapan Kawasan Tertib Lalu lintas pernah dilombakan pada tahun 2006, 2007 lalu saat itu saya jadi juri pada perlombaan se-Sumsel dan dimenangkan oleh Muba dan Palembang juara 2 waktu itu,”ucapnya.
Misal, Lanjut Prof Erika, dari hasil monitoring didapat pokok problemnya, maka permasalahan itu dipecahkan. Dia bilang pengawasan itu sangat penting perlu dilakukan 24 jam.
“Semua scheme transportasi bukan hanya judul. Apa scheme transportasi misalnya pakai drive two in one, one way, dan sekarang KTL itu semua harus di monitor 24 jam dan itu tidak susah saat ini sudah ada alat cctv dimonitor ada proses monitor,”ulasnya.
Dengan adanya pengawasan maka permasalahan yang sering terjadi dapat dilakukan pencegahan.
Baca juga: Lita Machfud Arifin ingatkan Tak Boleh Ada Penahanan Ijazah Siswa di Sekolah Negeri Maupun Swasta
“Proses itu di awasi setelah itu di evaluasi kalau masalahnya disini berarti solusinya begitu, evaluasi itu ada ilmunya ada ukuran nya jadi ukuran itulah namanya indikator,”Imbuhnya.
Dari indikator itu, kata Prof Erika sebagai bahan evaluasi untuk menertibkan sebuah kawasan tertib lalulintas, kalau tidak akan sia-sia anggaran mengalir tapi hasilnya nol.
“Bermuara di indikator jadi kira-kira berapa masih terjadi pelanggaran berapa pelanggaran lalulintas berapa pelanggaran rambu jadi Pelanggar itu dijadikan indikator kalau masih banyak pelanggaran percuma buat papan tulisan kawasan tertib Lalulintas itu ,”paparnya.
Makanya, dia bilang, gunting pita itu jangan dijadikan sebuah tontonan saja tapi ada actionnya dan ada hasilnya juga dinikmati oleh masyarakat.
“Itulah program itu bukan hanya judul dimonitor dievaluasi dianalisis dan seterusnya bukan hanya judul launching kalau tidak ada program monitoringnya percuma.”Tandas Pakar Transportasi ini.






