Berita DaerahSerba - Serbi

Sungai Dipenuhi Sampah, Aktivitas Warga Terganggu

×

Sungai Dipenuhi Sampah, Aktivitas Warga Terganggu

Sebarkan artikel ini
Sampah Limbah Rumah Tangga dan Eceng Gondok Berhamburan Di Tepian Sungai Musi Palembang (Foto SM/Tia Apriyani)

Palembang,SuaraMetropolitan – Tumpukan sampah masih memenuhi bantaran sungai di kawasan 12 Ulu RT 5, Karang belango. Kondisi ini dikeluhkan warga karena menimbulkan bau tidak sedap serta mengganggu aktivitas, terutama bagi nelayan yang bergantung pada aliran sungai tersebut.

Nawal, warga setempat mengatakan, persoalan sampah di wilayah tersebut sudah berlangsung sejak lama dan semakin parah sejak maraknya penggunaan plastik pada awal tahun 2000-an. Ia menilai, sebelumnya kondisi sungai masih relatif bersih dibandingkan saat ini.

“Kondisi sampah ini lah lamo, dari kecik lah ado. Dulu belum banyak plastik, sekarang sudah banyak botol plastik,” ungkap nawal.

Ia mengungkapkan, sampah tidak hanya berasal dari warga sekitar, tetapi juga diduga dibuang oleh orang luar yang melintas. Beberapa kali terlihat pengendara motor membuang sampah langsung ke sungai tanpa rasa tanggung jawab.

Selain menimbulkan bau tidak sedap, sampah juga berdampak pada aktivitas nelayan. Nawal mengaku kerap mengalami kerusakan perahu akibat sampah yang tersangkut di baling-baling.

Sampah Dari Limbah Rumah Tangga Saat Ini Memenuhi Bawah Rumah Warga di lorong Karang Belango 12 Ulu Palembang (Foto Tia Apriyani)

“Dampaknyo jelas bauk, dan sering nyangkut di baling-baling ketek, jadi rusak,” ujarnya.

Meski demikian, warga tetap berupaya menjaga kebersihan dengan melakukan gotong royong.

Namun, menurutnya, rendahnya kesadaran masyarakat membuat sampah terus bermunculan dan sulit dikendalikan.

“Sampah ini dak biso dipastike dari mano, kadang hanyut dari ilir ke ulu,” tambahnya.

Sementara itu, Rika Sebagai Ketua RT setempat mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan sampah, termasuk mengimbau warga agar tidak membuang sampah sembarangan.

Ia menjelaskan, kegiatan gotong royong rutin dilakukan setiap minggu, serta adanya sistem pengangkutan sampah rumah tangga dengan iuran per rumah.

“Setiap minggu ado gotong royong, untuk sampah rumah tangga ado tukang sampah, bayarnyo sekitar limo ribu sampai sepuluh ribu,” jelasnya

Namun demikian, ia mengaku sampah kerap kembali muncul meskipun telah dibersihkan. Ia menduga sampah berasal dari aliran sungai yang membawa limbah dari wilayah lain.

“Kito dak tau sampah itu datang dari mano, padahal sudah dibersihke, tapi muncul lagi,” ujarnya.

Rika Sebagai Ketua RT berharap adanya peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan serta perlunya kerja sama lintas wilayah dalam menangani persoalan ini. Warga juga diminta untuk terus menjaga kebersihan lingkungan agar kondisi sungai tidak semakin memburuk.

Informasi diatas ditulis oleh Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang.

Tinggalkan Balasan