Palembang,SuaraMetropolitan – Upaya menjaga kebersihan Sungai Musi kembali dilakukan Pemerintah Kota Palembang. Wali Kota Palembang H Ratu Dewa, M.Si., turun langsung memimpin aksi bersih-bersih sampah di kawasan 7 Ulu, sekitar Jembatan Ampera, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi. Sekitar 700 orang dari berbagai unsur ikut terlibat, mulai dari relawan, komunitas, mahasiswa, pemuda, masyarakat hingga unsur pemerintah.
Ratu Dewa bersama para peserta menyusuri kawasan bantaran Sungai Musi untuk mengangkat dan mengumpulkan sampah yang mencemari lingkungan.
Aksi ini turut melibatkan The Guardians of The River – ICCN Sumatera Selatan, Koordinator Daerah ICCN Sumsel Muhammad Hafidz Alfuqan, serta aktivis lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter yang dikenal dengan sebutan Bule Sampah.
Ratu Dewa menyampaikan apresiasi atas keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, aksi ini merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap Sungai Musi yang tidak hanya menjadi ikon Palembang, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kota Palembang, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi,” ujar Ratu Dewa.
Ia menegaskan, Sungai Musi memiliki nilai ekologis sekaligus menjadi bagian dari identitas, sejarah dan kehidupan masyarakat Kota Palembang. Karena itu, upaya menjaga kebersihannya tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.
Baca juga: Taksi Listrik Bukan Berarti Bebas Uji, Pakar Transportasi Tegaskan Wajib Laik Jalan
Keterlibatan masyarakat, kata Ratu Dewa, diperlukan agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti sebagai gerakan sesaat, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Persoalan sampah sendiri masih menjadi tantangan bagi Kota Palembang. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, timbulan sampah di Palembang mencapai sekitar 1.260 ton per hari atau lebih dari 460 ribu ton dalam setahun.
Pemkot Palembang terus melakukan penguatan pengelolaan sampah. Salah satunya melalui program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Keramasan dengan kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari.
Namun, Ratu Dewa mengingatkan keberadaan fasilitas pengolahan tersebut tidak boleh membuat masyarakat mengabaikan upaya pengurangan sampah dari sumbernya.
“PSEL bukan berarti kita boleh terus menghasilkan sampah. Pengurangan dan pemilahan sampah tetap harus dimulai dari rumah, lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai, mengurangi penggunaan plastik serta membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.
“Jangan buang sampah sembarangan. Mari kita peduli lingkungan dan menjadikannya sebagai budaya. Mulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian mengajak masyarakat,” ajaknya.
Baca juga: PKP Kejaksaan RI Angkatan I dan II Belajar Pelayanan Publik di Palembang
Sementara itu, Koordinator Daerah ICCN Sumatera Selatan Muhammad Hafidz Alfuqan mengatakan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai aksi bersih-bersih yang dilakukan sesaat.
Menurut Hafidz, gerakan menjaga Sungai Musi perlu dilakukan secara konsisten dengan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat. Dalam kegiatan kali ini, ratusan mahasiswa, pemuda, komunitas dan masyarakat turut mengambil bagian.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut dinilai penting untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kebersihan sungai.
“Yang paling penting adalah konsisten. Gerakan ini jangan hanya berhenti pada satu kegiatan, tetapi harus terus dilakukan,” ujarnya.
Hafidz juga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Pemerintah Kota Palembang yang tidak hanya memberikan dukungan, tetapi turut hadir dan terlibat langsung dalam aksi tersebut.
Aktivis lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter atau Bule Sampah, juga ikut turun ke lapangan membersihkan kawasan Sungai Musi.
Benedict mengapresiasi kesempatan untuk ambil bagian dalam gerakan tersebut. Menurutnya, Palembang memiliki posisi penting sebagai salah satu kota besar di Indonesia, sementara Sungai Musi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kota.
Ia menilai persoalan sampah membutuhkan aksi nyata sekaligus upaya membangun kesadaran masyarakat secara lebih luas.
“Menurut saya kita harus membuat aksi, bukan cuma membuat aksi, tetapi juga membuat video, membuatnya viral dan membangun kesadaran,” katanya.







