Berita Daerah

Kondisi Belum Sadar, Pasien di RSMH Diminta Pulang, Keluarga Bingung

×

Kondisi Belum Sadar, Pasien di RSMH Diminta Pulang, Keluarga Bingung

Sebarkan artikel ini
Gedung Rumah Sakit, Dr. Mohammad Hosein, Palembang.

Palembang,SuaraMetropolitan Keluarga pasien di Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang mengeluhkan pelayanan yang diterima, setelah pasien atas nama Abdul Hamid (49) disebut diminta untuk dipulangkan dalam kondisi belum sadar atau koma. Keluarga bahkan mengaku diminta menyiapkan sendiri sejumlah alat medis untuk perawatan di rumah, Rabu (15/4/2026).

Keluhan tersebut disampaikan oleh Titan (22), anak pasien, yang mengaku kebingungan atas keputusan pihak rumah sakit. Ia menyebutkan bahwa keluarga diberi waktu sampai Kamis, 16 April, untuk membawa pulang ayahnya, meski kondisi masih belum membaik.

“Saya bingung, dua hari lagi pihak rumah sakit meminta agar ayah saya dipulangkan ke rumah. Padahal ayah saya masih dalam kondisi koma. Menurut dokter RSMH, ayah saya sudah tidak bisa dibantu lagi. Kami sebagai keluarga tidak mengerti, jadi kami ingin ayah tetap dirawat di rumah sakit,” ungkapnya saat dihubungi SuaraMetropolitan Selasa (14/4/2026) malam.

Titan menjelaskan, awalnya sang ayah mengalami sakit kepala hebat pada awal bulan puasa dan sempat dirawat di Rumah Sakit Charitas Myria KM 7. Saat itu, dokter mendiagnosis hipertensi dan hanya memberikan pengobatan tanpa menggunakan fasilitas BPJS, sehingga keluarga harus membayar secara mandiri.

“Selama di RS Myria hanya dilakukan pengecekan saja dan disebut hipertensi, jadi tidak bisa gunakan BPJS dan harus bayar sendiri,” katanya.

Beberapa minggu kemudian, tepatnya pada 19 Maret, kondisi Abdul Hamid kembali memburuk dengan keluhan sakit kepala hebat dan dirawat di Rumah Sakit Permata. Saat masuk rumah sakit, pasien masih dalam keadaan sadar namun lemas. Tidak lama kemudian, ia kehilangan kesadaran.

Hasil CT Scan menunjukkan adanya hydrocephalus atau penumpukan cairan di otak. Pasien pun disarankan segera menjalani operasi. Karena keterbatasan fasilitas, ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Pelabuhan Boom Baru.

Baca juga: Tak Lagi Sekadar Imbauan, Palembang Siapkan Hukuman Buang Sampah Sembarangan

Di rumah sakit tersebut, pasien dirawat di ruang ICU dan ditangani oleh dokter. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyampaikan dua diagnosis, yakni hydrocephalus dan aneurisma atau pembengkakan pembuluh darah di otak. Operasi hydrocephalus pun dilakukan dan berjalan lancar.

“Setelah empat hari operasi, ayah saya sempat sadar, tapi masih merasa pusing dan dirawat inap. Dokter kemudian menyarankan untuk dirujuk ke RSMH untuk operasi kedua aneurisma,” jelas Titan.

Namun, saat proses rujukan berlangsung, kondisi pasien kembali menurun hingga tidak sadarkan diri. Titan mengaku proses rujukan ke RSMH sempat mengalami kendala, diduga karena persoalan coding BPJS.

“Kami tidak terlalu paham soal koding BPJS, tapi untuk bisa dirujuk ke RSMH kami harus menunggu sampai tiga hari dan itu pun setelah meminta bantuan keluarga yang bekerja di sana,” ujarnya.

Sesampainya di IGD RSMH, Titan menilai pelayanan yang diterima kurang memuaskan. Ia mengaku sempat mendapatkan respons yang kurang ramah serta harus menunggu cukup lama untuk penanganan lebih lanjut.

“Di IGD saya sempat ditanyai apakah punya ‘orang dalam’. Padahal seharusnya tidak seperti itu. Setelah itu baru ayah saya dipindahkan ke ICU,” katanya.

Selama kurang lebih tiga minggu dirawat di ICU, Titan juga mengaku kesulitan berkomunikasi dengan dokter yang menangani ayahnya. Ia menyebutkan sulit mendapatkan informasi terkait perkembangan kondisi pasien.

Baca juga: Tantangan Belanja Pegawai hingga PPPK, Jadi Sorotan di Musrenbang Sumsel

Selanjutnya, dokter kembali menegaskan diagnosis aneurisma dan hydrocephalus, serta melakukan tindakan operasi lanjutan. Setelah itu, pasien dipindahkan ke ruang paliatif dengan kondisi masih koma, dengan kadar hemoglobin (HB) yang disebut hanya mencapai angka 4.

Di tengah kondisi tersebut, pihak rumah sakit disebut meminta agar pasien segera dipulangkan dan dirawat di rumah. Hal ini membuat keluarga merasa keberatan, terlebih mereka juga diminta menyiapkan sendiri alat medis untuk perawatan lanjutan.

“Kami merasa keberatan karena kondisi ayah saya masih koma. Dokter bilang stabil, tapi faktanya tidak sadar, tekanan darah naik turun. Perawatan di rumah tentu sangat terbatas. Kalau sudah sadar mungkin tidak masalah, tapi ini kondisinya seperti ini,” jelasnya.

Titan menambahkan, keluarga berharap pihak rumah sakit dapat memberikan kebijakan yang lebih bijak, mengingat kondisi pasien yang belum memungkinkan untuk dirawat di rumah.

Baca juga: Satgas Dibentuk, Pemkot Palembang Percepat Realisasi Sekolah Rakyat

“Kami berharap pihak rumah sakit atau pemangku kebijakan dapat memberikan pelayanan kesehatan terbaik, khususnya untuk ayah saya. Kalau pun harus dipulangkan, setidaknya dalam kondisi sudah lebih baik. Saat ini kami benar-benar bingung,” pungkasnya.

Sementara itu, pihak Rumah Sakit Mohammad Hoesin melalui Humas, Suhaimi, mengonfirmasi bahwa pasien berinisial AH saat ini telah ditetapkan dalam perawatan paliatif. Berdasarkan pemantauan, kondisi tanda-tanda vital pasien masih dalam keadaan stabil sehingga memungkinkan untuk direncanakan pemulangan dalam waktu dekat.

Menurutnya, rencana pemulangan dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan perawatan lanjutan di rumah. Pihak rumah sakit memastikan seluruh kebutuhan pasien, termasuk penyediaan peralatan medis yang diperlukan, dapat terpenuhi sebelum pasien kembali ke lingkungan keluarga.

Ia menambahkan, sebagai bagian dari pelayanan komprehensif, tim medis juga telah memberikan edukasi kepada keluarga mengenai kondisi pasien serta tata cara perawatan di rumah, guna mendukung kualitas hidup pasien selama masa perawatan paliatif.

Selain itu, rumah sakit juga telah menyelenggarakan family meeting bersama keluarga pasien untuk membahas rencana perawatan selanjutnya, termasuk berbagai hal yang perlu dipersiapkan agar perawatan di rumah dapat berjalan optimal, aman, dan berkesinambungan.

Tinggalkan Balasan

error: Maaf ya, kalau beritanya bagus di share saja.