Palembang,SuaraMetropolitan – Upaya pencegahan stunting terus diperkuat di tingkat keluarga. Salah satunya melalui edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya pola asuh dan pemberian makanan bergizi bagi anak.
Hal tersebut disampaikan Lurah 11 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) II, Palembang, Arianto, SE, M.Si., dalam kegiatan Sosialisasi Pengaruh Edukasi Kesehatan tentang Stunting terhadap Perubahan Perilaku Keluarga dalam Pemberian Makan Anak di Kelurahan 11 Ulu.
Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Puskesmas Nagaswidak, dr. Hj. Masayu Meidiawani, M.K.M., sebagai narasumber. Kegiatan turut dihadiri Ketua TP PKK Kelurahan atau yang mewakili, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Kelurahan 11 Ulu, tokoh masyarakat, tokoh agama, IPMK, kader kesehatan, kader Posyandu, serta para orang tua.
Dalam sambutannya, Arianto mengatakan anak merupakan masa depan keluarga, Kelurahan 11 Ulu, hingga bangsa. Karena itu, pertumbuhan dan perkembangan anak harus menjadi perhatian bersama sejak dini.
“Anak-anak adalah masa depan kita, masa depan Kelurahan 11 Ulu, dan masa depan bangsa. Namun, masa depan yang cerah itu hanya bisa dicapai jika anak-anak kita tumbuh dengan sehat, cerdas, dan bebas dari ancaman stunting,” ujar Arianto, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan. Peran keluarga justru sangat menentukan, terutama dalam menerapkan pola asuh dan pola makan yang tepat di lingkungan rumah.
Baca juga: Edukasi GERMAS di 11 Ulu, Warga Diajak Cegah AIDS, TBC, dan Malaria Sejak Dini
“Pencegahan stunting bukan sekadar tugas pemerintah atau tenaga kesehatan saja, melainkan tanggung jawab paling utama ada di dalam rumah kita masing-masing, yaitu keluarga. Penentu utama tumbuh kembang anak adalah bagaimana kita, sebagai orang tua, memberikan pola asuh dan pola makan yang benar setiap harinya,” katanya.
Arianto menilai masih diperlukan peningkatan pemahaman orang tua mengenai pemenuhan gizi anak. Sebab, menurutnya, persoalan kekurangan gizi tidak selalu disebabkan oleh ketiadaan makanan, tetapi juga dapat terjadi karena kurangnya pemahaman dalam memilih makanan yang seimbang.
“Sering kali, kekurangan gizi pada anak terjadi bukan karena tidak adanya makanan, melainkan karena kurangnya pemahaman kita tentang menu yang seimbang. Kebiasaan memberikan makanan ‘asal anak kenyang’ atau menuruti jajanan yang kurang sehat harus mulai kita ubah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa anak yang mengalami stunting memiliki risiko terhadap penyakit metabolik. Oleh sebab itu, edukasi dan pencegahan harus dilakukan sedini mungkin guna memutus rantai risiko penyakit.
“Anak stunting berisiko penyakit metabolik. Kegiatan ini penting guna memutus rantai penyakit sedini mungkin,” jelas Arianto.
Dalam kegiatan tersebut, keluarga juga diberikan pemahaman mengenai sejumlah faktor yang dapat memengaruhi terjadinya stunting, di antaranya pola asuh dan pola makan. Pemenuhan kebutuhan protein anak, baik protein hewani maupun protein nabati, juga menjadi perhatian.
Baca juga: Pemkab Muba Buka Data CSR Rp26,4 Miliar, Tegaskan Bukan Dana yang Dikelola Pemerintah
“Anak-anak itu sangat diperlukan protein hewani dan protein nabati,” ujarnya.
Selain itu, sosialisasi turut memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai susu kental manis (SKM) yang selama ini masih kerap dianggap sebagai susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
“Kita sosialisasikan yang selama ini kita tidak tahu, SKM itu susu kental manis itu tidak termasuk susu, karena dalam susu kental manis tidak terdapat kalsium maupun protein,” kata Arianto.
Arianto berharap edukasi kesehatan yang diberikan tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, tetapi benar-benar diterapkan keluarga dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan perilaku dalam pola asuh dan pemberian makanan anak dinilai menjadi bagian penting dalam upaya bersama mencegah stunting di Kelurahan 11 Ulu.
Tidak hanya melalui sosialisasi, upaya pencegahan stunting di Kelurahan 11 Ulu juga diwujudkan melalui pemberian paket makanan untuk anak-anak melalui Posyandu. Paket tersebut antara lain berisi susu formula, kacang hijau, biskuit, dan sejumlah makanan pendukung lainnya.
Pemberian paket makanan tersebut menjadi bagian dari perhatian Kelurahan 11 Ulu bersama kader Posyandu dalam mendukung pemenuhan asupan gizi anak sekaligus memperkuat langkah pencegahan stunting di tingkat keluarga.
Dengan edukasi yang disertai dukungan pemenuhan makanan bagi anak, diharapkan kesadaran orang tua semakin meningkat dan upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara nyata dan berkelanjutan.






