Oki,SuaraMetropolitan – Pengelolaan kawasan gambut di Sumatera Selatan (Sumsel) tidak cukup hanya berorientasi pada perlindungan lingkungan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kawasan tersebut juga perlu dikembangkan secara produktif agar memberikan nilai ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal itu disampaikan Gubernur Sumsel H. Herman Deru saat menghadiri kegiatan Uji Adaptasi Tanaman Bambu dan Jelutung Menggunakan Teknik Tumpang Sari pada Ekosistem Gambut untuk Mendukung Pengelolaan Gambut Berkelanjutan dan Penghidupan Masyarakat di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Jumat (30/10/2026).
Herman Deru mengungkapkan, Sumsel memiliki kawasan hidrologis gambut sekitar 2 juta hektare atau kurang lebih 10 persen dari keseluruhan kawasan gambut nasional. Besarnya potensi tersebut membutuhkan pengelolaan yang terencana dan berkesinambungan dengan melibatkan berbagai pihak, khususnya masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan gambut.
Menurutnya, menjaga kelestarian gambut harus berjalan beriringan dengan upaya pemanfaatan potensi yang dimiliki kawasan tersebut. Dengan pengelolaan yang tepat, gambut tidak hanya berfungsi sebagai penyangga lingkungan, tetapi juga dapat menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Kita ingin gambut ini tidak hanya dijaga, tetapi juga bisa dimanfaatkan secara produktif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, perlu ada pola pengelolaan yang tepat, berkelanjutan, dan melibatkan masyarakat secara langsung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, upaya pemulihan dan perlindungan ekosistem gambut di Sumsel telah berlangsung sejak lama. Tim Restorasi Gambut Sumsel hingga saat ini masih aktif menjalankan berbagai program untuk memulihkan sekaligus menjaga kawasan tersebut.
Baca juga: Pajak Belum Lunas, Universitas dan Sekolah IGM Catat Tunggakan Rp2,33 Miliar
Bahkan, sejak awal terbentuknya Badan Pengelola Gambut dan Mangrove, Sumsel telah mengambil inisiatif dengan mengundang para gubernur dari daerah yang memiliki kawasan gambut. Langkah tersebut dilakukan untuk membangun koordinasi dan menyatukan upaya pengelolaan gambut secara lebih luas.
Inisiatif itu kemudian mendapat respons positif hingga Sumsel dipercaya menjadi tuan rumah Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Gambut yang secara khusus membahas pencegahan dan penanganan Karhutla.
Selain pendekatan restorasi, Herman Deru juga menilai pengembangan potensi lokal menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem gambut. Salah satunya dengan menghidupkan kembali peternakan kerbau rawa yang merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat.
Ia berharap ke depan terdapat tujuh kelompok atau kawasan yang dapat menjadi mitra aktif dan memperoleh pembinaan dari Badan Pengelola Gambut dan Mangrove. Melalui pola kemitraan tersebut, pengelolaan gambut diharapkan semakin terarah dan mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Salah satu upaya yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah pengembangan tanaman bambu betung dan jelutung menggunakan teknik tumpang sari.
Kedua jenis tanaman ini dinilai memiliki potensi untuk dibudidayakan sesuai karakteristik lahan gambut sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Baca juga: Pengeroyokan Jurnalis Belum Tuntas, Koalisi Pers Sumsel Tuntut Kapolda Dicopot
Bambu betung, misalnya, dapat diolah menjadi bahan baku mebel, furnitur, hingga berbagai produk kerajinan. Bahkan, Sumsel telah mulai menghasilkan produk mebel berbahan bambu.
Namun, pengembangan komoditas tersebut masih membutuhkan dukungan industri pengolahan agar hasil budidaya masyarakat tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
“Ini menjadi contoh bahwa kawasan gambut bisa dikelola dengan baik apabila ada keseriusan dan komitmen bersama. Kita ingin gambut tetap terjaga, tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” tegas Herman Deru.
Sementara itu, Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Sumsel dalam mendorong berbagai program pemulihan dan pengelolaan ekosistem gambut.
Ia mengungkapkan, kawasan yang dikunjungi tersebut sebelumnya merupakan wilayah yang berulang kali mengalami kebakaran. Namun, melalui berbagai kegiatan restorasi dan penanaman kembali vegetasi, kondisi kawasan secara bertahap mulai menunjukkan pemulihan.
Saat ini, sekitar 30 spesies tanaman telah dikembangkan di kawasan tersebut. Beberapa di antaranya meliputi jelutung, ramin, meranti rawa, punak, pulai, tembesu, gaharu, keranji, serta berbagai jenis tanaman khas ekosistem gambut lainnya.
Baca juga: Ratu Dewa Kritik Medsos OPD: Foto Seremoni Banyak, Informasi Manfaat untuk Warga Minim
Menurut Satyawan, perkembangan tersebut menjadi sesuatu yang menarik karena berpotensi dijadikan model pengelolaan untuk diterapkan di daerah lain yang memiliki karakteristik ekosistem gambut serupa.
Ia juga menekankan bahwa keterlibatan desa dan masyarakat harus diperkuat dalam menjaga keberlanjutan kawasan gambut. Partisipasi masyarakat menjadi faktor penting agar kawasan tersebut tetap terpelihara, produktif, dan memiliki risiko kebakaran seminimal mungkin.
Kabupaten OKI sendiri dinilai memiliki peluang besar menjadi kawasan percontohan pengelolaan gambut. Pasalnya, daerah tersebut memiliki kawasan lahan gambut dengan luas hampir 1 juta hektare.
Terkait uji adaptasi tanaman, penanaman bambu betung dan jelutung diharapkan dapat menjadi model pengembangan vegetasi yang sesuai dengan karakteristik lahan gambut.
Baca juga: Bapenda Palembang Apresiasi 60 Lembaga Pendidikan Swasta yang Taat Bayar PBB-P2
Jelutung berpotensi dikembangkan sebagai tanaman bernilai ekonomi, sedangkan bambu betung dapat dimanfaatkan untuk mendukung industri furnitur dan kerajinan masyarakat.
Meski demikian, pengembangan kedua komoditas tersebut perlu dibarengi kesiapan industri pengolahan. Dengan demikian, hasil budidaya masyarakat tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi yang dapat dirasakan secara langsung.
Di sisi lain, Bupati OKI Muchendi menyampaikan bahwa kawasan tersebut telah menjadi bagian dari upaya pengelolaan dan restorasi gambut sejak 2010.
Ia menyambut baik pelaksanaan kegiatan uji adaptasi tanaman tersebut karena dinilai menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga riset, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem gambut.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bupati OKI Muchendi, Wakil Bupati Musi Banyuasin, serta jajaran terkait.








