LAHAT, SuaraMetropolitan,– Aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan angkutan batubara di Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, dikeluhkan warga karena menimbulkan debu yang berdampak pada lingkungan dan pertanian.
Keluhan tersebut tergambar dalam video dokumenter yang diunggah akun Instagram @simburcahaya pada 3 November 2025. Dalam video itu, terlihat debu berwarna hitam pekat menempel di rumah warga hingga menutupi permukaan tanaman di lahan pertanian.
Warga menyebut debu kerap masuk ke dalam rumah, mengotori perabotan, dan terbawa angin dari arah cerobong PLTU maupun lintasan truk batubara. Kondisi ini juga dirasakan hingga malam hari saat aktivitas warga berkurang.
Dampak debu tersebut dirasakan langsung oleh petani di wilayah Muara Maung. Salah satu petani, Semi, mengaku hasil taninya menurun sejak aktivitas industri meningkat di kawasan tersebut.
“Semenjak ada PLTU ini tanah sudah tidak bagus lagi. Kalau dulu sayuran masih mendingan, kalau sekarang tidak hidup lagi. Cabai baru berbunga mati semua karena debu,” ujarnya.
Ia juga membandingkan hasil panen sebelum dan sesudah kondisi tersebut terjadi. Jika sebelumnya mampu menghasilkan 12 hingga 20 karung dalam satu kali panen, kini hanya sekitar 4 karung.
“Dulu sekali panen bisa dapat 12 sampai 20 karung, sekarang mungkin hanya kisaran 4 karung saja,” tambahnya.
Warga berharap ada perhatian terhadap kondisi lingkungan di Merapi Barat, terutama terkait dampak debu terhadap kesehatan dan keberlangsungan pertanian mereka.
Informasi diatas ditulis oleh Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang








