Palembang,SuaraMetropolitan – TNI Angkatan Udara (TNI AU) melalui Satuan Tugas (Satgas) Udara Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) kembali melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan teknologi dry ice untuk membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Palembang, Rabu (21/10/2026).
Operasi tersebut menggunakan pesawat C-212 dengan nomor registrasi A-2117 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi konsentrasi kabut asap yang terperangkap di atmosfer sekaligus meningkatkan jarak pandang, terutama di wilayah yang terdampak cukup parah.
Sebelum pelaksanaan misi, Komandan Lanud Sri Mulyono Herlambang, Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya, M.M.S., berpesan kepada seluruh awak pesawat dan tim pendukung agar selalu mengutamakan keselamatan selama menjalankan tugas.
Teknologi dry ice diterapkan untuk memengaruhi kondisi atmosfer sehingga kabut asap yang terperangkap di bawah lapisan inversi dapat terangkat dan terurai. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan jarak pandang mendatar atau visibility.
Material yang digunakan berupa karbon dioksida (CO₂) padat berbentuk bubuk atau pelet berukuran sekitar tiga milimeter. Material tersebut disemai ke lapisan atmosfer menggunakan pesawat dengan menyasar wilayah yang terpantau memiliki konsentrasi kabut asap tinggi berdasarkan data pengamatan atmosfer melalui radiosonde.
Dalam prosesnya, material dry ice memanfaatkan suhu ekstrem sekitar minus 75 derajat untuk mendinginkan udara secara mendadak. Proses tersebut bertujuan membantu membongkar lapisan inversi yang menahan asap di atmosfer.

Baca juga: Perampingan Struktur OPD Pemkab Banyuasin, Sekda Ingatkan Risiko Kekeliruan Program
Danlanud Sri Mulyono Herlambang, Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya, mengatakan penyemaian dry ice yang dilaksanakan pada Rabu merupakan sorti ketujuh. Dalam enam sorti sebelumnya, sebanyak 4.800 kilogram dry ice telah disebarkan.
“Ini operasi modifikasi cuaca (OMC) berupa penebaran dry ice ini yang ketujuh. Tujuh sorti sebelumnya kita sudah enam sorti, sebanyak 4.800 kg dry ice sudah kita sebar. Alhamdulillah, di empat hari sebelumnya itu kita mendapatkan hasil yang cukup signifikan. Kita terlihat dengan visibility yang meningkat, yang pagi biasanya kita rendah, setelah ditebar itu semakin meningkat sampai sore, 3.500 sampai 7.000. Jadi hari ini kita lanjutkan kembali tugas kita untuk menebar dry ice ini di sekitaran Kota Palembang, khususnya yang terkena banyak asap,” ujar Asep.
Menurut Asep, pelaksanaan operasi sebelumnya menunjukkan peningkatan jarak pandang. Kondisi yang biasanya mengalami penurunan pada pagi hari dilaporkan membaik setelah penyemaian dry ice, bahkan peningkatannya bertahan hingga sore hari.
Meski demikian, pelaksanaan operasi juga menghadapi kendala dalam penyimpanan material dry ice. Suhu penyimpanan yang kurang dingin dapat mempercepat proses sublimasi sehingga jumlah material berkurang sebelum digunakan.
“Tentunya kendala ada, ya. Misalnya, contohnya untuk penempatan stok ice yang memang ini apabila kita tidak di tempat yang dingin, maka sublimasinya cukup tinggi. Bisa contoh saja, sebelumnya dari 2.000 bisa sampai turun ke 785. Namun, kendala ini sudah kita temukan tempat untuk storing-nya, yaitu berupa penyimpanan ikan yang bisa untuk menyimpan tiga sampai empat ton, atau styrofoam. Kemudian juga kita menempatkan satu mobil cooler box untuk tonase sekitar tiga ton. Kemudian kita juga dikirim dari pusat, yaitu berupa dua kontainer yang cukup untuk menyimpan stok kita,” jelasnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim telah menyiapkan sejumlah fasilitas penyimpanan, mulai dari tempat penyimpanan ikan berkapasitas tiga hingga empat ton, mobil cooler box dengan kapasitas sekitar tiga ton, hingga dua kontainer yang dikirim dari pusat untuk menjaga persediaan material.
Baca juga: Tak Bisa Terus Bergantung pada Subsidi, LRT Sumsel Didorong Cari Sumber Pendapatan Baru
Dukungan operasi juga diperkuat dengan dua pesawat Hercules Super J A-1339 dan J A-1344 dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Pesawat tersebut membawa 2,4 ton dry ice dan lima ton garam untuk mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di Sumatera Selatan.
Terkait dukungan armada, Asep menyampaikan bahwa operasi di Sumatera Selatan sementara menggunakan pesawat Casa-212 A-2117 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh. Selain itu, direncanakan kedatangan satu pesawat Casa-212 tambahan serta kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Kalau alutsista TNI AU yang digunakan sementara ini di Sumatera Selatan, kita berupa Casa-212. Di sini Alfa 2117 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh. Kemungkinan nanti siang ini kita kedatangan satu lagi Casa, dan juga kita berkolaborasi dengan BNPB. Di sini ada satu pesawat BNPB yang bisa kita kerahkan untuk melaksanakan OMC dry ice ini,” ungkap Asep.
Asep juga menjelaskan bahwa waktu penyemaian dry ice menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam pelaksanaan operasi. Berdasarkan informasi dari BMKG maupun Brint yang disampaikannya, penyemaian dinilai efektif dilakukan pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
“Waktu penyemaian dry ice, kalau informasi dari BMKG maupun Brint, itu efektifnya adalah di jam 10.00 WIB sampai jam 16.00. Namun, kita tetap memperhatikan cuaca, safety-nya. Kita tetap harus di visibility, disesuaikan dengan yang diperlukan oleh para penerbang yang sedang melaksanakan tugas,” tuturnya.
Melalui operasi tersebut, TNI AU bersama instansi terkait berupaya membantu mengurangi dampak kabut asap akibat karhutla di Palembang. Penyemaian dry ice diharapkan dapat membantu mengurangi konsentrasi asap dan meningkatkan jarak pandang, dengan tetap mengutamakan keselamatan penerbangan.







