BeritaEkonomi & Bisnis

Tren Franchise Menggoda, Banyak Pelaku Usaha di Sumsel Terjebak Tanpa Edukasi

×

Tren Franchise Menggoda, Banyak Pelaku Usaha di Sumsel Terjebak Tanpa Edukasi

Sebarkan artikel ini
CEO Business Forum Indonesia Jahja B. Soenarjo (duduk) saat menyampaikan Materi (foto Tia dan Fathul)

Palembang, SuaraMetropolitan,– Di tengah maraknya tren bisnis waralaba (franchise), banyak pelaku usaha di Sumatera Selatan justru terjebak dalam keputusan instan tanpa pemahaman yang memadai. Alih-alih meraih keuntungan, tidak sedikit yang berakhir merugi karena minimnya edukasi bisnis.

Fenomena ini disoroti CEO Business Forum Indonesia, Jahja B. Soenarjo, dalam expo franchise di Palembang, Rabu (16/04/2026). Ia menilai, tingginya minat masyarakat terhadap franchise tidak diimbangi dengan literasi bisnis yang cukup.

“Banyak yang masuk ke bisnis ini karena ikut tren, bukan karena paham. Mereka tergiur janji balik modal cepat tanpa menghitung risiko,” ujarnya.

Menurut Jahja, pola pikir instan menjadi masalah utama. Calon pelaku usaha kerap mengambil keputusan secara emosional, tanpa melakukan riset mendalam terhadap brand, sistem operasional, maupun potensi pasar.

Padahal, ia menegaskan bahwa bisnis franchise bukan jaminan sukses. Keuntungan sangat bergantung pada berbagai faktor, seperti kekuatan merek, strategi promosi, hingga kemampuan pengelolaan usaha di lapangan.

“Franchise itu bukan autopilot. Kalau tidak dikelola dengan baik, ya tetap bisa gagal,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua jenis franchise cocok di semua lokasi. Misalnya, usaha makanan dan minuman cepat saji memang memiliki margin tinggi, namun persaingan yang ketat bisa menjadi tantangan serius. Sementara itu, usaha seperti laundry dinilai potensial hanya jika berada di kawasan dengan kebutuhan tinggi, seperti sekitar kampus atau hunian padat.

Di sisi lain, minat generasi muda terhadap bisnis franchise terus meningkat. Rifki, mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang, mengaku tertarik mempelajari model bisnis ini sebagai peluang usaha masa depan.

Namun, ia menilai pentingnya inovasi agar tidak sekadar mengikuti arus pasar, termasuk mengangkat potensi lokal.

“Kalau hanya ikut tren, pasti cepat jenuh. Tapi kalau dikombinasikan dengan produk lokal seperti minuman rempah, bisa lebih kuat karena punya identitas,” katanya.

Jahja pun menekankan bahwa pengembangan ekosistem franchise di Sumatera Selatan tidak cukup hanya mengandalkan tren, tetapi harus dibarengi dengan edukasi yang masif dan berkelanjutan.

Tanpa itu, ia khawatir semakin banyak pelaku usaha pemula yang terjebak dalam euforia bisnis tanpa kesiapan.

“Kalau tidak ada edukasi, franchise bisa jadi jebakan. Tapi kalau dipahami dengan benar, ini bisa jadi pintu lahirnya pengusaha-pengusaha baru dari daerah,” pungkasnya.

Informasi diatas ditulis oleh Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang 

Tinggalkan Balasan

error: Maaf ya, kalau beritanya bagus di share saja.