Berita DaerahBerita UnikSerba - Serbi

Tergerus Zaman, Tukang Sol Sepatu di Palembang Mengeluh Sepi dan Pendapatan Menurun

×

Tergerus Zaman, Tukang Sol Sepatu di Palembang Mengeluh Sepi dan Pendapatan Menurun

Sebarkan artikel ini
Tukang sol sepatu dan sendal Herman (61) sedang menjahit dan memperbaiki sendal yang telah rusak di jalan merdeka, Palembang (foto SM/Andika)

Palembang,SuaraMetropolitan – Nasib tukang sol sepatu di Kota Palembang kian terdesak. Penurunan jumlah pelanggan berdampak langsung pada merosotnya pendapatan harian para pekerja jasa perbaikan sepatu tradisional. Sabtu (04/04/2026).

Herman (61), yang telah menekuni profesi sebagai tukang sol sepatu selama 20 tahun di Jalan Merdeka, Kelurahan 26 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, mengaku mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Herman tetap setia menunggu pelanggan yang datang memperbaiki sepatu. Ia mematok harga jasa perbaikan berdasarkan tingkat kerusakan sepatu.

“Mulai dari harga Rp 15.000 hingga Rp 20.000, tergantung kondisi sapatunya . Perhari kadang saya mendapatkan sekitar Rp 100.000 dalam kondisi ramai, namun terkadang juga mengalami penurunan sepi pelanggan perhari bisa mendapatkan sekitar Rp.40.000,” katanya saat diwawancarai secara langsung, baru-baru ini.

Menurut Herman, perubahan pola hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab utama berkurangnya pelanggan. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu ketika lebih banyak orang berjalan kaki dan menyempatkan diri memperbaiki sepatu.

“Dulunya orang kebanyakan berjalan kaki memperbaiki sepatu sehingga mampir ke tempat saya. Sekarang orang kebanyakan menggunakan kendaraan jadi lebih sedikit yang mampir dan juga banyak orang lebih membeli sapatu baru daripada memperbaiki,” jelasnya.

Ia juga menilai kebiasaan masyarakat yang lebih memilih membeli sepatu baru turut memperparah kondisi tersebut. Padahal, memperbaiki sepatu yang lama itu jauh lebih banyak manfaatnya, hemat dan juga lebih tahan lama.

“Apabila masih layak lebih baik diperbaiki daripada membeli sapatu yang baru, saat ini kebanyakan sepatu yang terlihat bagus namun tidak tahan lama, agar kuat dan tahan lama lebih bagusnya dengan dijahit supaya bisa dipakai jangka panjang,” tambah Herman.

Beberapa sapatu yang belum diperbaiki, serta benang -benang untuk menjahit sol sepatu (foto SM/Andika)

Kondisi serupa juga dirasakan Jahor, sesama tukang sol sepatu, yang mengaku pendapatannya tidak menentu akibat sepinya pelanggan pada hari-hari biasa.

“Di hari biasa terkadang saya dapat sekitar Rp.20.000. saat kondisi pelanggan sepi, Namun menjelang lebaran dan anak sekolah dapat sekitar Rp.300.000, mendapatkan uang segitu sangat bersyukur bisa menafkahi istri dan anak saya,” ucapnya.

Jahor menegaskan bahwa kualitas pekerjaan menjadi hal utama dalam mempertahankan pelanggan di tengah persaingan dan perubahan zaman.

“Saya lebih mementingkan kualitas lebih baik Lambat tapi hasilnya memuaskan dan tidak mengecewakan pelanggan,” tegasnya.

Keduanya berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk membantu keberlangsungan usaha mereka.

“Dalam bentuk bantuan berupa modal usaha untuk semangat agar usaha kami berkembang,” tutupnya.

Informasi diatas ditulis oleh Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang 

Tinggalkan Balasan

error: Maaf ya, kalau beritanya bagus di share saja.