Pekalongan,SuaraMetropolitan – Prof. Wijaya kembali terpilih secara demokratis dengan perolehan suara sebagai Ketua Umum Konsorsium Tasawuf dan Psikoterapi Indonesia (KOTATERAPI) untuk periode kedua. Kepastian tersebut didapat dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) KOTATERAPI yang diselenggarakan di Pekalongan, mulai tanggal 22 hingga 24 Juli 2026.
Dalam proses pemilihannya, Prof. Wijaya terus didesak oleh para peserta Munas untuk bersedia memimpin kembali. Bursa pemilihan sebenarnya berlangsung cukup dinamis dengan munculnya 7 kandidat calon ketua. Ketujuh kandidat tersebut terdiri dari Prof. Wijaya yang mendapat 12 suara, Dr. Ala’i dari UIN Jakarta mendapatkan 1 suara, Prof. Hasani dari UIN Jakarta mendapatkan 4 suara, Dr. Cucu dari UIN Bandung mendapatkan 4 suara, Fauzi dari UIN Padang mendapatkan 2 suara, serta Dr. Hasol dari UIN Kediri mendapatkan 4 suara dan Dr. Hafil dari UIN Kediri mendapatkan 2 suara.
Meski awalnya sempat menahan diri dari berbagai desakan, permintaan yang terus mengalir serta besarnya kepercayaan melalui perolehan suara terbanyak tersebut akhirnya membuat Prof. Wijaya bergeming dan luluh. Ia pun menerima amanah untuk tetap menakhodai konsorsium KOTATERAPI.
Kesediaannya menerima mandat ini menegaskan tingginya kepercayaan para pengurus dan anggota terhadap kepemimpinannya di periode sebelumnya. Usai didaulat kembali sebagai ketua umum, ia memaparkan sejumlah rencana strategis, motivasi, dan harapan terkait pengembangan keilmuan tasawuf dan psikoterapi di Indonesia ke depannya.
Prof. Wijaya menegaskan pentingnya pembenahan akademik secara menyeluruh.
“Seperti yang saya katakan tadi, fokus kita adalah memperkuat kurikulum nasional sehingga jelas arah dari alumni tasawuf dan psikoterapi ini,” ujar Prof. Wijaya.
Lebih lanjut, ia memaparkan rencana organisasinya untuk berkoordinasi dengan pemerintah, khususnya Kementerian Agama. Pihaknya akan mengusulkan penataan ulang nomenklatur gelar akademik bagi lulusan program studi ini agar lebih relevan dengan dunia kerja.
“Kemudian yang kedua adalah, kita akan membuat atau mengusulkan kepada Menteri Agama bagaimana nomenklatur gelar ini bisa diubah untuk mencantumkan bidang keahliannya,” tambahnya.
Terkait dinamika organisasi di periode keduanya ini, Prof. Wijaya menekankan arti penting dari sinergi dan kolaborasi dari seluruh elemen yang terlibat di dalam konsorsium.
“Nah, harapan saya, ya harapan kami ini, supaya persatuan dan kesatuan dari para Kaprodi, Sekprodi Tasawuf dan Psikoterapi, berikut para pengurusnya ini kinerjanya akan lebih meningkat, lebih kompak, lebih solid, dan lebih terdedikasi,” tegasnya.
Melalui langkah-langkah strategis berupa penguatan kurikulum dan penyesuaian gelar akademik tersebut, KOTATERAPI di bawah kepemimpinan Prof. Wijaya diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar dalam menjawab tantangan kesehatan mental masyarakat melalui pendekatan spiritual yang terstandarisasi.











